Senin, 10 November 2014

Memahami Hadis "malu sebagian dari Iman"

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Islam memiliki dua sumber hukum yang menjadi pedoman di dalam menjalani kehidupan. Kedua sumber hukum itu ialah al-Qur’an dan hadis. Hadis menjadi sumber hukum kedua yang digunakan setelah al-quran. Meskipun al-quran mencakup seluruh aspek kehidupan, namun karena ke-ijmalan-nya tidak mungkin dapat dipahami kecuali dengan menggunakan hadis sebagai penjelas dan perinci keijmalan al-Quran.
Bagi kaum muslimin hadis merupakan pengetahuan norma kehidupan masa lampau yakni pada masa kehidupan nabi Muhammad saw. untuk dijadikan tuntutan kehidupan duniawi pada masa sekarang.[1] Dengan demikian meski zaman terus berkembang namun nilai-nilai dan norma kehidupan tetap sama seperti pada masa Nabi Muhammad saw. masih hidup. Inilah salah satu dari tujuan memahami isi dari sebuah hadis. Isi hadis ini disebut dengan matan. Matan merupakan unsur pokok dalam suatu hadis karena dalam matan inilah terdapat pesan yang menjadi sumber hukum. Selain matan, hadis juga terdiri dari sanad dan perawi.[2]
Dalam memahami matan hadis, ada beberapa metode yang harus ditempuh, tidak hanya mengandalkan penerjemahan tekstual saja. Mengetahui konteks dan latar belakang hadis itu diucapkan merupakan metode yang dibutuhkan agar mendapatkan pemahaman sebuah hadis secara komprehensif. Beberapa metode dalam memahami matan hadis yang biasa digunakan oleh para pens-syarah hadis diantaranya tahlili dengan metode bil ma’tsur dan bir ra’yi, ijmali, dan muqaran.[3] Kajian ini juga biasa disebut kritik matan hadis.[4]
Langkah-langkah yang digunakan untuk memahami hadis, sebagaimana yang pernah dipaparkan oleh Prof. Dr. H. Suryadi, MA, dalam perkuliahan Studi Hadis, dapat melalui enam klasifikasi, yaitu melalui kajian historis, kajian linguistik, kajian tematis komprehensif, kajian konfirmatif, analisis realitas historis, dan kritik praksis.
Bentuk-bentuk redaksi hadis pun beragam. Dilihat dari segi ungkapan bahasa macam-macam hadis terbagi menjadi jawami’ al kalim, ungkapan simbolik, bahasa tamsil, bahasa percakapan, dan ungkapan analog.[5]
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana cara memahami hadis dengan kajian historis?
2.      Bagaimana cara memahami hadis dengan kajian linguistik?
3.      Bagaimana cara memahami hadis dengan kajian Tematis komprehensif?
4.      Bagaimana cara memahami hadis dengan kajian konfirmatif?
5.      Bagaimana cara memahami hadis dengan kajian realitas histors?
6.      Bagaimana cara memahami hadis dengan kajian kritik praktis?




BAB II
PEMBAHASAN
1.      Teks Hadits
Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang hadis tentang malu sebagian daripada iman. Sebagaimana sabda rasulullah dalam kitab Bukhari nomor 5653:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ سَالِمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ وَهُوَ يُعَاتِبُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ يَقُولُ إِنَّكَ لَتَسْتَحْيِي حَتَّى كَأَنَّهُ يَقُولُ قَدْ أَضَرَّ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ
(BUKHARI - 5653) Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abu Salamah telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari Salim dari Abdullah bin Umar radliallahu 'anhuma; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melewati seorang laki-laki yang tengah mencela saudaranya karena malu, kata laki-laki itu; "Sesungguhnya kamu selalu malu hingga hal itu akan membahayakan bagimu." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Biarkanlah ia, karena sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari iman."
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَ مَرَّ بِرَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ يَعِظُ أَخَاهُ
(MUSLIM - 52): Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Amru an-Naqid serta Zuhair bin Harb mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari az-Zuhri dari Salim dari bapaknya, bahwa Nabi mendengar seorang laki-laki menasihati saudaranya karena malu, maka beliau pun bersabda: "Malu itu adalah sebagian dari iman." Telah menceritakan kepada kami Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari az-Zuhri dengan sanad ini seraya berkata, "Beliau melewati seorang laki-laki dari kalangan Anshar yang sedang menasihati saudaranya."
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ وَأَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ الْمَعْنَى وَاحِدٌ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ فِي حَدِيثِهِ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي بَكْرَةَ وَأَبِي أُمَامَةَ
(TIRMIDZI - 2540): Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar dan Ahmad bin Mani' dan maknanya adalah sama, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari az Zuhri dari Salim dari bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melewati seorang laki-laki yang sedang menasihati saudaranya dalam masalah malu, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Malu adalah sebagian dari iman." Ahmad bin Mani' berkata tentang haditsnya 'Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendengar seorang laki-laki menasihati saudaranya dalam masalah malu' maka dia berkata; 'Ini hadits hasan shahih. Dan dalam bab tersebut (juga diriwayatkan) dari Abu Bakrah dan Abu Umamah.'
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مَالِكٌ حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ كَانَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ
(AHMAD - 4936): Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Malik telah menceritakan kepada kami Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, bahwa seorang laki-laki Anshar memberi nasehat kepada saudaranya tentang rasa malu. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya rasa malu itu bagian dari iman."
أَخْبَرَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْنٌ قَالَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ وَالْحَارِثُ بْنُ مِسْكِينٍ قِرَاءَةً عَلَيْهِ وَأَنَا أَسْمَعُ عَنْ ابْنِ الْقَاسِمِ أَخْبَرَنِي مَالِكٌ وَاللَّفْظُ لَهُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ
(NASAI - 4947) : Telah mengkhabarkan kepada kami Harun bin Abdullah, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ma'n, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Malik dan Al Harits bin Miskin dengan membacakan riwayat dan saya mendengar dari Ibnu Al Qasim, telah mengkhabarkan kepadaku Malik dan lafazhnya adalah lafazh dia, dari Ibnu Syihab dari Salim dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melewati seorang laki-laki yang memberikan nasehat kepada saudaranya mengenai rasa malu. Maka beliau bersabda: "TInggalkanlah dia, sesungguhnya rasa malu itu sebagian dari keimanan."
حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ
(ABUDAUD - 4162) : Telah menceritakan kepada kami Al Qa'nabi dari Malik dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melewati seorang laki-laki Anshar yang sedang menasihati saudaranya karena sikap malu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda: "Biarkanlah ia, sesungguhnya malu itu bagian dari iman."
حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنْ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ
(IBNUMAJAH - 4174) : Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Musa telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Manshur dari Al Hasan dari Abu Bakrah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Malu itu sebagian dari iman, dan iman akan berada di surga. Sedangkan perkataan kotor termasuk dari perangai buruk, dan perangai buruk akan berada di neraka."
2.      Kajian Historis
Dari sekian banyak jalur periwayatan hadis yang disuguhkan diatas, tidak tampak adanya pertentangan diantara satu hadis dengan hadis yang lainnya, semua menyatakan bahwa malu adalah sebagian dari iman.
Dengan demikian, penulis sebelum memberikan kajian pemaknaan terhadap matan hadis, mencoba untuk mengungkap sedikit kredebilitas periwayat hadis dari berbagai runtutan sanadnya secara sekilas. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kredibilitas perawi sehingga bias disimpulkan bahwa hadis tersebut sahih atau dhaif. Penelitian sanad kami fokuskan pada riwayat imam bukhari dari jalur Ahmad bin Yunus diteruskan kepada Abdul Aziz bin Abu Salamah, Ibnu Syihab, salim, Abdullah bin Umar dan terakhir mukharrij hadis ini, Imam Bukhari.
3.      Kajian Linguistik
Kajian linguistik dibutuhkan sebagai usaha memahami perbedaan-perbedaan lafadz yang ditemukan diantara hadis-hadis yang semakna, ini dikarenakan banyaknya matan hadis tersusun dengan lafadz yang berbeda apabila disandingkan dengan matan hadis lain yang sama kualitasnya, serta dalam satu tema kajian. Tentunya hal tersebut disebabkan adanya periwayatan hadis secara makna.
Mengingat bahasa yang digunakan hadis adalah bahasa Arab yang memerlukan ketelitian dalam memaknai dan memahaminya, maka kajian linguistik ini akan menyajikan makna (arti) kata-kata dengan rujukan kamus-kamus bahasa arab dan yang berkaitan dengan tata bahasa arab (Nahwu dan Sharaf). Berikut penulis mencoba memaparkan matan hadis dengan kajian linguistik.
NAHWU
SHOROF
TERJEMAH
KALIMAT
Jazam dan Maf’ul Bih
Fiil Amar dan Maf’ul
Biarkanlah ia
دعه
-
Huruf
Maka
ف
-
Isim
Sesungguhnya
إن
Mansub, Fathah
Isim Ma’rifat
Sifat malu
الحياء
-
Huruf Jar
Sebahagian
من
Majrur, Kasrah
Isim Ma’rifat
Daripada iman
الإيمان

4.      Kajian Tematis Komprehensif
Dalam kajian pemaknaan hadis tentang malu adalah sebagian dari iman tersebut banyak hadis-hadis yang mendukung atau relevan dengan tema yang diteliti. Adapun hadis-hadis yang relevan dengan tema yang dikaji diantaranya adalah hadis yang menjelaskan tentang hakikat malu kepada Allah swt. Berikut teks hadisnya :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ أَبَانَ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ الصَّبَّاحِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ مُرَّةَ الْهَمْدَانِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
(TIRMIDZI-2382): Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Ubaid dari Aban bin Ishaq dari Ash Shabbah bin Muhammad dari Murrah Al Hamdani dari Abdullah bin Mas'ud berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Malulah pada Allah dengan sebenarnya." Berkata Ibnu Mas'ud: Kami berkata: Wahai Rasulullah, kami malu, alhamdulillah. Beliau bersabda: "Bukan itu, tapi malu kepada Allah dengan sebenarnya adalah kau menjaga kepala dan apa yang difahami dan perut beserta isinya, mengingat kematian dan segala kemusnahan, barangsiapa menginginkan akhirat, ia meninggalkan perhiasan dunia, barangsiapa melakukannya, ia malu kepada Allah dengan sebenarnya."
Hadis riwayat Imam Malik yang menjelaskan bahwa ciri khas agama Islam adalah mempunyai sifat malu. Berikut teks hadisnya :
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ سَلَمَةَ بْنِ صَفْوَانَ بْنِ سَلَمَةَ الزُّرَقِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ طَلْحَةَ بْنِ رُكَانَةَ يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقٌ وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ

(MALIK - 1406) : Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Salamah bin Shafwan bin Salamah Az Zuraqi dari Zaid bin Thalhah bin Rukanah dia memarfu'kan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu."
Hadis riwayat Imam Tirmidzi dibawah ini menyatakan bahwa sifat malu akan menghiasi pelakunya dengan hiasan yang indah. Berikut teks hadisnya :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّنْعَانِيُّ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ
(TIRMIDZI - 1897) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul A'la Ash Shan'ani dan lebih dari satu orang, mereka berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dari Ma'mar dari Tsabit dari Anas ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah sifat buruk berada dalam sesuatu kecuali akan memperburuknya, dan tidaklah sifat malu ada dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya."
Hadis riwayat Imam Bukhari menjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang pemalu bahkan lebih pemalu dari gadis pingitan, sedangkan hadis riwayat Imam Tirmidzi menyatakan bahwa sifat malu adalah sunnah para Nabi, Berikut teks hadisnya :
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ هُوَ ابْنُ أَبِي عُتْبَةَ مَوْلَى أَنَسٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنْ الْعَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا فَإِذَا رَأَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ عَرَفْنَاهُ فِي وَجْهِهِ
(BUKHARI - 5637) : Telah menceritakan kepada kami Abdan telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Syu'bah dari Qatadah saya mendengar Abdullah yaitu Ibnu Abu 'Utbah bekas budak Anas, dari Abu Sa'id Al Khudri dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sosok yang lebih pemalu daripada seorang gadis yang dipingit dalam rumah, apabila beliau melihat sesuatu yang tidak disukainya, maka kami akan mengetahui dari raut muka beliau."
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ عَنْ الْحَجَّاجِ عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ أَبِي الشِّمَالِ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ مِنْ سُنَنِ الْمُرْسَلِينَ الْحَيَاءُ وَالتَّعَطُّرُ وَالسِّوَاكُ وَالنِّكَاحُ

(TIRMIDZI - 1000) : Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Waki', telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari Al Hajjaj dari Mahkul dari Abu Asy Syimal dari Abu Ayyub berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Empat hal yang termasuk sunnah para rasul: malu, memakai wewangian, siwak, dan nikah."
5.      Kajian Konfirmatif
Untuk memahami hadis-hadis tentang malu adalah sebagian dari iman dengan pemahaman yang mendekati kebenaran, maka harus sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an yang tidak diragukan lagi kebenarannya.
Oleh karena itu, tidak ada hadis sahih yang kandungannya bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang muhkamat. Jikalau masiah ada pertentangan antara keduanya, maka terdapat beberapa kemungkinan, diantaranya pemahaman terhadap hadis kurang tepat atau pertentangan pada hadis tersebut bersifat semu atau tidak hakiki.
Hadis-hadis tentang malu adalah sebgian dari iamn, ketika dikonfirmasi dengan ayat A;-Qur’an dalam surat Al-Qashash (28) ayat 25 sebagai berikut :
فَجَاءتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاء قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu".
Dalam tafsir al-Misbah karya Quraish Syihab dijelaskan, kata اسْتِحْيَاء terambil dari kata حياء yang artinya malu. Penambahan huruf sin dan ta pada kata itu menunjukkan bersarnya rasa malu tersebut. Kata ini bermaksud menyatakan bahwa wanita tersebut berjalan dengan penuh hormat, tidak angkuh, tidak juga genit mengundang perhatian. Sayyid Quthub menggaris bawahi kehadiran wanita dengan penuh malu itu, namun –tulisnya- dia dating menyampaikan dengan kalimat singkat dan jelas. Rasa malu yang disertai dengan kejelasan kalimat, tanpa gagap atau gugup, begitulah keadaan seorang yang diilhami oleh fitrahnya yang suci. Wanita yang suci, malu –berdasarkan fitrahnya- bertemu dengan pria atau berbicara dengan mereka. Tetapi karena kepercayaan dirinya serta kesucian dan konsistensinya, dia tidak gentar atau gugup, kegentaran yang mengandung keinginan, rayuan atau rangsangan.[6]
Allah tidak merasa malu untuk membuat perumpamaan kepada orang-orang kafir meskipun itu hanyalah seekor nyamuk, surat Al-Baqarah (2) ayat 26 :
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَـذَا مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيراً وَيَهْدِي بِهِ كَثِيراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِينَ

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan : "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,
Menurut hamka Allah membuat berbagai perumpamaan. Tuhan pernah mengumpamakan orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lain, adalah laksana laba-laba membuat sarang. Sarang laba-laba adalah sangat rapuh (tersebut dalam surat al-Ankabut ayat 41). Tuhanpun pernah mengambil perumpamaan dengan lalat, bahwa apa-apa yang dipersekutukan oleh orang-orang musyirikin dengan Allah itu, jangankan membuat alam, membuat seekor lalatpun mereka tidak bias (tersebut dalam surat al-Haj ayat 73). Orang-orang munafik tidaklah memperhatikan isi, tetapi hendak mencari kelemahan, missal yang dikemukakan Allah dengan maksud hendak meremehkan Rasulullah, tetapi Allah menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Muhammad bukanlah perkatannya sendiri melainkan wahyu ilahi. Allah tidak malu (segan) membuat perumpamaan sekecil nyamuk atau bahkan lebih kecil daripadanya.[7]
Allah tidak malu untuk menegur sahabat-sahabat nab yang menunggu waktu Nabi makan dan melarang untuk masuk ke rumah Nabi disaat Nabi sedang makan kecuali mereka diundang, surat al-Ahzab (33) ayat 53 :
إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنكُمْ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاء حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَن تَنكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِن بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمًا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.
Ayat diatas menurut Ibnu Kasir dinamakan dengan ayatul hijab yang didalamnya terdapat beberapa peraturan hokum syara’. Ayat ini turun ketika Nabi melangsungkan pernikahan dengan Zainab Binti Jahasy, saat itu Nabi mengundang para sahabatnya untuk merayakan pernikaannya, sesudah selesai makan dan minum masih ada beberapa sahabat yang masi bercakap-cakap dirumah Nabi, hal ini membuat NAbi rishi dan malu untuk menegur mereka sehingga turunlah ayat ini yang menegur para sahabat Nabi dan Allah tidak malu untuk menjelaskan sesuatu yang benar.[8]
6.      Analisis Realitas Historis
Dalam penilaian matan hadis-hadis tentang malu adalah sebagian dari iman, penulis menggunakan pendekatan bahasa (linguistik), historis dan sosiologis. Juga dengan mempertinmbangkan teks-teks hadis yang setema (kajian tematik-komprehensif), disamping itu juga dilakukan konfirmasi makna dari petunjuk-petunjuk Al-Qur’an.
Pemaknaan hadis dari analisa sisi kebahasaan (linguistik), telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya. Konfirmasi dengan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an uga dibahasan dalam sub bab sebelumya. Selanjutnya adalah analisis matan secara umum setelah dianalisis sisi kebahasaan pada lafal redaksi matan hadis, didukung oleh hadis-hadis relevan dengan tema dan konfirmasi petunjuk Al-Qur’an.
a.      Analisis pemaknaan hadis
Hadis-hadis tentang malu adalah sebagian dari iman seharusnya dimaknai secara kontekstual, karena teks hadis sudah sangat jelas menyatakan bahwa sifat malu merupakan bagian dari iman dan mereflesikan keimanan seseorang.
Dari beberapa hadis yang sudah disuguhkan diatas, bias diketahui bahwasannya sifat malu merupakan bagian dari iman, malu adalah sifat atau perasaan yang bias dicegah seseorang unruk melakukan perbuatan yang jelek maupun merampas hak-hak orang lain. Malu adalah akhlak yang penting yang mempengaruhi individu, keluarga dan masyarakat. Ketika rasa malu menghilang, maka rusaklah tatana masyarakat. Malu adalah akhlak yang apabila kita menghiasi diri dengannya, maka masyarakat akan menjadi tentang dan damai, setiap kali rasa malu mengalami penurunan dari individu, maka problem di masyarakat akan selalu meningkat. Ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh baginda Rasulullah Muhammad saw:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّنْعَانِيُّ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ
(TIRMIDZI - 1897) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul A'la Ash Shan'ani dan lebih dari satu orang, mereka berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dari Ma'mar dari Tsabit dari Anas ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah sifat buruk berada dalam sesuatu kecuali akan memperburuknya, dan tidaklah sifat malu ada dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya."
Sifat malu mempunyai peranan yang sangat besar dalam mengendalikan hawa nafsu seseorang. Dengan sifat malu, seseorang tidak akan melakukan perbuatan tercela. Seseorang yang memiliki sifat malu tidak akan mampu melihat dirinya tercela dihadapan Allah, dihadapan manusia, dan bahkan dihadapan dirinya sendiri. Orang yang memiliki sifat malu adalah orang yang mulia. Sifat malu akan menjadikan seseorang mulia dihadapan Allah, dihadapan manusia, dan dihadapan dirinya sendiri.
Sifat malu adalah perasaan yang hidup di dalam jiwa seseorang. Suatu perasaan yang mengangkat pelakunya dari kehinaan dan cela, perasaan yang membuat beberapa kegiatan negative menjadi mustahil dilakukan, seperti : berbohong, mencuri, berciuman di tempat umum, berzina dan lain-lain. Seseorang dikatakan pemalu karena kuatnya dorongan hati yang hidup yang selalu berusaha untuk selalu menghindari segala sesuatu yang hina. Karena hati yang hidup, seseorang dapat menghindari segala perbuatan yang membawa kepada kehinaan. Disebutkan dalam sebuah hadis bahwasannya karakter agama Islam adalah mempunyai sifat malu.
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ سَلَمَةَ بْنِ صَفْوَانَ بْنِ سَلَمَةَ الزُّرَقِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ طَلْحَةَ بْنِ رُكَانَةَ يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقٌ وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ
(MALIK - 1406) : Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Salamah bin Shafwan bin Salamah Az Zuraqi dari Zaid bin Thalhah bin Rukanah dia memarfu'kan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu."
Dijelaskan dalam buku “kepribadian dalam psikologi islam” karakter malu memiliki sepuluh jenis :
1.      Karena berbuat dosa atau salah (al-jinayah), seperti malunya Nabi Adam ketika melarikan diri dari surge.
2.      Karena keterbatasan diri (al-Taqshir), seperti malunya malaikat yang tidak bertasbih ketika tibanya hari kiamat, padahal biasanya ia bertasbih kepada Allah siang dan malam.
3.      Karena mengagungkan (al-Ijlal) berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Semakin tinggi pengetahuan akan keagungan tuhannya, maka ssemakin tinggi pula rasa malunya.
4.      Karena kemuliaan (al-kiram), seperti malunya Nabi Muhammad menyuruh orang pulang dalam suatu perjamuan, tetapi ia menggunakan isyarat bangkit dari tempat duduknya.
5.      Karena menjaga etika (al-Hasymah), seperti Ali merasa malu bertanya kepada NAbi mengenai persoalan madzi (lender yang lekuar dari alat kelamin mengiringi hubungan seksual), karena hubungan mertua dan menantu.
6.      Karena terhina (al-Istihqar) dan kecil hati (al-Istishghar), seperti malunya seorang hamba yang banyak meminta kepada Tuhannya, sedangkan ibadah yang dilakukan sangan sedikit.
7.      Karena cinta (al-mahabbah) seperti malunya orang yang mencintai pada yang dicintai, walaupun tanpa sebab yang jelas.
8.      Karena rasa ibadah (al-Ubudiyyah), yaitu rasa malu yang bercampur antara rasa cinta dan takut. Dengan ibadahnya yang sedikit ai merasa malu kepada Tuhannya yang Agung.
9.      Karena kemuliaan (al-Syarif), yaitu malunya orang yang telah berbuat baik kepada orang lain. Dengan kemuliaannya, semakin banyak berbuat baik maka dirinya semakin merasa malu.
10.  Malu terhadap diri sendiri, karena dirinya dirasa masih kurang baiknya, sementara orang lain selalu bain dalam pandangannya.[9]
b.      Analisis Sosio-Historis
Setelah diperoleh pemahaman tekstual terhadap hads tentang malu adalah sebagian dari iman melalui matan hadis, selanjutnya dilakukan upaya menemukan konteks sosio-historis hadis-hadis tersebut. Langkah ini sangat penting karena mengingat koleksi hadi adalah bagian dari realitas tradisi keislaman yang dibangun oleh Nabi dan sahabatnya dalam lingkup situasi sosialny, sehingga tidak akan terjadi distorsi informasi atau bahkan salah paham.[10]
Analisis historis ini mensyaratkan adanya kajian mengenai situasi mikro, yakni sebab-sebab munculnya sebuah hadis (asbab wurud al-hadis), dan situasi makro, yakni situasi kehidupan secara menyeluruh di Arabia pada saat kehadiran Nabi Muhammad saw.[11]
Setelah mengadakan penelusuran terhadap literature sebab-sebab munculnya sebuah hadis (asbab wurud al-hadis) tentang malu adalah sebagian dari iman, penulis menemukan sebab khusus yang melahirkan hads yang sedang dikaji ini. Adapun sebab khusus yang melahirkan hadis ini adalah : ketika Nabi melewati seorang laki-laki dari kaum Anshar yang sedang menasehati saudaranya tentang malu, seakan-akan dia berkata bahwa sifat malu temah mencelakaimi. Melihat hal itu Nabi bersabda : malu adalah sebagian dari iman. Setelah mengetahui asbab wurud al-hadis, penulis mencoba memaparkan melalui situasi makro-nya, yakni situasi kehidupan secara menyeluruh di Arab. Dengan melihat sosio-historis yang ada, kita bias memahami keadaan yang terjadi pada waktu itu.
Dalam buku al-sirah al-nabawiyah dijelaskan tentang aqidah di zaman jahiliyah, dikatakan bahwa pada saat itu rasa keagamaan bangsa Quraisy sangant lemah. Hal ini tak lain disebabkan karena jauh dari masa kenabian dan lama dalam kejahiliahan. Disamping itu mereka banyak terpengaruh oleh adanya ajaran menyembah berhala yang tersebar di sekitar Jazirah Arabia, sehingga sangat kuat sekali keyakinannya terhadap berhala-berhala.
Jumlah berhala yang ada di dalam Ka’bah dan sekitarnya da tiga ratus enam puluh buah. Berhala yang paling terkemukan bernama Hubal yang diletakkan di dalam Ka’bah. Selain itu di depan ka’bah terdapat dua berhala yang bernama Isaaf dan Nailah. Sedangkan berhala yang paling besar yang diberi nama Uzza, mereka diletakkan di dekat bukit Arafah, bahkan setiap rumah di Makkah pasti ada berhala yang disembah oleh penghuninya. Bangsa Quraisy pada wakti itu sangat tenggelam dalam lembah keberhalaan, mereka banyak percaya pada segala macam khurafat atau tahayyul yang menyesatkan.[12] Bahkan mereka akan memotong-motong berhala sesembahan mereka kemudian memakannya. Satu-satunya dalih yang mereka nyatakan adalah mereka mengikuti jejak nenek moyang mereka. Hal ini sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Al-Qur’an surat Al-Baqarah (2) ayat 170 :
وإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".
c.       Analisis Generaliasi
Setelah menganalisa matan dan realitas historis hadis-hadis tentang malu adalah sebagian dari iman, maka selanjutnya makna-makna yang telah ditemukan dimaknai secara general dengan cara menangkap makna universal yang tercakup dalam hads. Pemaknaan generalisasi pada tahap ini, membuka jalan bagi pemaknaan hadis secara global. Pemaknaan hadis Nabi yang tepat dapat dijadikan sebagai sebuah usaha merefleksian teks hadis, sehingga berfungsi sebagai wahana perekam kejadian masa lalu yang mungkin dapat dipahami dalam memaknai situasi kekinian.
Berdasarkan analisis isi dalam analisis realitas, maka ditemukan makna tekstual hadis dan signifikansi konteksnya, kemudian digeneralisasikan dengan menangka[ makna universal yang tercakup dalam hadis atau meminjam istilah Fazlur Rahman kita temukan –“idel moral”- yang hendak diwujudkan sebuah teks karena setiap pernyataan Nabi Muhammad saw. Harus diasumsikan, memiliki tujuan moral-sosial yang bersifat universal.[13]
Dengan melihat pemaknaan tekstual dan kondisi sosio-historis munculnya hadis-hadis tentang malu adalah sebagian dari iman, dapat ditarik sebuah pesan inti, bahwa sifat malu adalah bagian dari iman, semakin kuat iman seseorang makan sebakin kuat juga sifat malunya. Dengan sifat malu yang tumbuh subur dalam sanubarinya seseorang akan dapat mengendalikan hawa nafsunya sehingga ia akan jauh dari hal-hal yang menjijikkan baik dimata syariat atau norma masyarakat.
7.      Kritik Praksis
Persoalan moral senantiasa mewarnai kehidupan manusia dari masa ke masa. Seiring dengan gelombang kehidupan ini, dalam setiap kurun dantempat tertentu muncul tokoh yang memperjuangkan tegaknya nilai-nilai moral. Termasuk didalamnya keberadaan para Rasul sebagai utusan Tuhan, khususnya Muhammad saw. Yang memiliki gitas dan misi utama untuk menegakkan nilai-nilai moral. Upaya penegakan moral menjadi sangat penting dalam rangka mencapai keharmonisan hidup.
Memasuki era modern sekarang ini, persoalan moral tetap menjadi salah satu dari sekian banyak kompleksitas persoalan kemanusiaan yang senantiasa harus dicermati secara serius. Sebab seiring dengan laju modernitas kemajemukan dan kompleksitas persoalan manusiapun semakin bertambah. Seiring dengan perjuangan abadi manusia untuk menegakkan moral, Tuhan memberikan hidayah yang akan menolongnya, yaitu Al-Qur’an dan diutusnya Muhammad sebagai Rasulullah di muka bumi yang dihiasi dengan akhlaqul karimah.
Seiring dengan kemajuan zaman, krises akhlak merambah semua komponen, mulai dari politisi, birokrat, pendidik, pemikir, pengusaha, penguasa hingga rakyat miskin. Menurut Said Agil Husain al_munawwar sumber krisis akhlak itu dapat dilihat dari penyebab timbulnya yaitu :
1.      Krisis akhlak terjadi karena longgarnya pegangan agama yang menyebabkan hilangnya pengontrol diri dari dalam (self control). Krisis akhlak terjadi karena pembinaan moral yang dilakukan orang tua, sekolah dan masyarakat sudah kurang efektif.
2.      Krisis akhlak terjadi disebabkan karena derasnya arus budaya hidup materialistic, hedonistic, dan sekuleristik.
3.      Krisis akhlak terjadi karena belum adanya kemauan yang sungguh-sunggu dari pemerintah.[14]
Dengan demikian pembinaan akhlak mulia merupakan keharusan mutlak dan tuntuna yang tidak bias ditawar lagi. Keharusan mutlak ini harus menjadi kepedulian semua pihak. Sebab akhlak mulia menjadi pilar tumuh dan berkembangnya peradaban suatu bangsa. Kemampuan suatu bangsa untuk terus hidup dan berkembanga (survive) ditentukan oleh kualtisa akhlaknya.
Namun pembinaan akhlak mulia bukanlah hal yang ringan ditengah-tengah perkembangan masyarakat yang semakin dinamis ini. Oleh karena itu membiasakan berakhlakul karimah dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan dan seterusnya merupakan suatu usaha untuk mewujudkan generasi yang bermoralitas Al-Qur’an.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pemaknaan hadis tentang malu adalah sebagian dari iman perlu ditinjau kembali untuk memperoleh pemahaman yang tepat. Iman merupakan landasan bagi setiap amal perbuatan, baik yang menyangkit ibadah yang bersifat mahdlah (utama), maupun yang menyangkut hal-hal yang bersifat ghoiru mahdlah (sekunder).
Salah satu ciri dari orang yang beriman adalah malu (al-haya’), malu adalah sifat atau perasaan yang bisa mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan yang jelek maupun merampas hak-hak orang lain. Dengan sifat malu, seseorang tidak akan melakukan perbuatan tercela. Seseorang yang memiliki sifat malu tidak akan mampu melihat dirinya tercela dihadapan Allah, dihadapan manusia, dan bahkan dihadapan dirinya sendiri. Sifat malu adalah perasaan yang hidup didalam jiwa seseorang. Suatu perasaan yang mengangkat pelakunya dari kehinaan dan cela, perasaan yang membuat beberapa kegiatan negative menjadi mustahil dilakukan.
Memasuki era modern sekarang ini, keboborokan moral seakan sudah mewabah dikalangan masyarakat luas, dengan menanamkan serta mengajarkan sifat malu kepada generasi muda kita serta memberikan porsi yang lebih besar dalam system pendidikan di bidang moral maka akan terbentuklah pribadi yang beriman dan bertakwa.




DAFTAR PUSTAKA
Abdul Mustaqim, Paradigma Integrasi-Interkoneksi dalam Memahami Hadis (Yogyakarta: Bidang Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2008)

Suryadi & Muhammad Alfatih S, Metodologi Penelitian Hadis (Yogyakarta: Teras, 2009)

Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis (Yogyakarta: Suka Press, 2012)

Suryadi, dalam pengantar kuliah Studi Quran Hadis, PI-Pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014.

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 8 (Jakarta: Lentera Hati, 2002)

Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz I (Jakarta: Pustaka Panjemas, 1982)

Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, (Jakarta: TP. Raja Grafindo Persada, 2007)

Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama; Sebuah Kajian Hermeneutik (Jakarta: Paramadina, 1996)

Musahadi, HAM, Evolusi KOnsep Sunnah: Implikasi Perkembanan Pada Hukum Islam. (Semarang: Aneka Ilmu, 2000)

Abul Hasan Ali al-Hasany an-Nadwy, Riwayat Hidup Rasulullah SAW., Terj. H. Bey Arifin dan Yunus Ali Muhdhar (Surabaya: PT. BIna Ilmu, 1989)

M. Fethullah Gulen, Versi Terdalam Kehidupan Rasulullah SAW, terj. Tri Wibowo Budi Santoso (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002)

Said Agil Husain Munawar, Aktualisasi Nilai-Nilai Qur’ni Dalam Sistim Pendidikan Islam (Ciputat: PT. Ciputat Pers, 2005)

Lidwa Pusaka I-Software – Kitab 9 Imam Hadits




       [1].Abdul Mustaqim, Paradigma Integrasi-Interkoneksi dalam Memahami Hadis (Yogyakarta: Bidang Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2008), 29.
       [2].Suryadi & Muhammad Alfatih S, Metodologi Penelitian Hadis (Yogyakarta: Teras, 2009), 18.
       [3].Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis (Yogyakarta: Suka Press, 2012), 47.
       [4]. Suryadi & Muhammad Alfatih S, Metodologi Penelitian Hadis, hlm. 5.
       [5]. Suryadi, dalam pengantar kuliah Studi Quran Hadis, PI-Pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014.
       [6].M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 8 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 151.
[7].Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz I (Jakarta: Pustaka Panjemas, 1982), hlm. 154-155.
       [8].Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz XXII …., hlm, 76-82
       [9]. Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, (Jakarta: TP. Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 334-335
       [10].Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama; Sebuah Kajian Hermeneutik (Jakarta: Paramadina, 1996), hlm. 23.
       [11].Musahadi, HAM, Evolusi KOnsep Sunnah: Implikasi Perkembanan Pada Hukum Islam. (Semarang: Aneka Ilmu, 2000), hlm. 158.
       [12].Abul Hasan Ali al-Hasany an-Nadwy, Riwayat Hidup Rasulullah SAW., Terj. H. Bey Arifin dan Yunus Ali Muhdhar (Surabaya: PT. BIna Ilmu, 1989), hlm. 69-70
       [13].M. Fethullah Gulen, Versi Terdalam Kehidupan Rasulullah SAW, terj. Tri Wibowo Budi Santoso (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 1-3
       [14].Said Agil Husain Munawar, Aktualisasi Nilai-Nilai Qur’ni Dalam Sistim Pendidikan Islam (Ciputat: PT. Ciputat Pers, 2005), hlm. 33-36