BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam memiliki dua sumber hukum yang menjadi pedoman di
dalam menjalani kehidupan. Kedua sumber hukum itu ialah al-Qur’an dan
hadis. Hadis menjadi sumber hukum kedua yang digunakan setelah al-quran. Meskipun al-quran
mencakup seluruh aspek kehidupan, namun karena ke-ijmalan-nya tidak mungkin
dapat dipahami kecuali dengan menggunakan hadis sebagai penjelas dan perinci keijmalan al-Quran.
Bagi kaum muslimin hadis merupakan
pengetahuan norma kehidupan masa lampau yakni pada masa kehidupan nabi
Muhammad saw. untuk dijadikan tuntutan kehidupan duniawi pada masa sekarang.[1]
Dengan demikian meski zaman terus berkembang namun nilai-nilai dan norma
kehidupan tetap sama seperti pada masa Nabi Muhammad saw. masih hidup. Inilah
salah satu dari tujuan memahami isi dari sebuah hadis. Isi hadis ini disebut
dengan matan. Matan merupakan unsur pokok dalam suatu hadis karena dalam matan
inilah terdapat pesan yang menjadi sumber hukum. Selain matan, hadis juga
terdiri dari sanad dan perawi.[2]
Dalam memahami matan hadis, ada beberapa metode
yang harus ditempuh, tidak hanya mengandalkan penerjemahan tekstual saja.
Mengetahui konteks dan latar belakang hadis itu diucapkan merupakan metode yang
dibutuhkan agar mendapatkan pemahaman sebuah hadis secara komprehensif.
Beberapa metode dalam memahami matan hadis yang biasa digunakan oleh para
pens-syarah hadis diantaranya tahlili dengan metode bil ma’tsur dan
bir ra’yi, ijmali, dan muqaran.[3] Kajian
ini juga biasa disebut kritik matan hadis.[4]
Langkah-langkah
yang digunakan untuk memahami hadis, sebagaimana yang pernah dipaparkan oleh Prof.
Dr. H. Suryadi, MA, dalam perkuliahan Studi Hadis, dapat melalui enam
klasifikasi, yaitu melalui kajian historis, kajian linguistik, kajian tematis
komprehensif, kajian konfirmatif, analisis realitas historis, dan kritik
praksis.
Bentuk-bentuk
redaksi hadis pun beragam. Dilihat dari segi ungkapan bahasa macam-macam hadis
terbagi menjadi jawami’ al kalim, ungkapan simbolik, bahasa tamsil, bahasa
percakapan, dan ungkapan analog.[5]
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana cara
memahami hadis dengan kajian historis?
2.
Bagaimana cara
memahami hadis dengan kajian linguistik?
3.
Bagaimana cara
memahami hadis dengan kajian Tematis komprehensif?
4.
Bagaimana cara
memahami hadis dengan kajian konfirmatif?
5.
Bagaimana cara
memahami hadis dengan kajian realitas histors?
6.
Bagaimana cara
memahami hadis dengan kajian kritik praktis?
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Teks
Hadits
Dalam makalah
ini penulis akan membahas tentang hadis tentang malu sebagian daripada iman.
Sebagaimana sabda rasulullah dalam kitab Bukhari nomor 5653:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ
أَبِي سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ سَالِمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ
وَهُوَ يُعَاتِبُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ يَقُولُ إِنَّكَ لَتَسْتَحْيِي حَتَّى
كَأَنَّهُ يَقُولُ قَدْ أَضَرَّ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ
(BUKHARI - 5653) Telah
menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Abdul
Aziz bin Abu Salamah telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari Salim dari Abdullah bin Umar
radliallahu 'anhuma; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melewati
seorang laki-laki yang tengah mencela saudaranya karena malu, kata laki-laki
itu; "Sesungguhnya kamu selalu malu hingga hal itu akan membahayakan
bagimu." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Biarkanlah ia, karena sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari
iman."
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ
وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ
الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ سَمِعَ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَعِظُ أَخَاهُ فِي
الْحَيَاءِ فَقَالَ الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ حَدَّثَنَا
عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ
الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَ مَرَّ بِرَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ
يَعِظُ أَخَاهُ
(MUSLIM - 52): Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar
bin Abu Syaibah dan Amru an-Naqid serta Zuhair
bin Harb mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari
az-Zuhri dari Salim dari bapaknya, bahwa Nabi mendengar seorang laki-laki
menasihati saudaranya karena malu, maka beliau pun bersabda: "Malu itu
adalah sebagian dari iman." Telah menceritakan kepada kami Abd bin Humaid
telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar
dari az-Zuhri dengan sanad ini seraya berkata, "Beliau melewati seorang
laki-laki dari kalangan Anshar yang sedang menasihati saudaranya."
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ وَأَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ الْمَعْنَى
وَاحِدٌ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ
سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ
بِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ قَالَ
أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ فِي حَدِيثِهِ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ
حَسَنٌ صَحِيحٌ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي بَكْرَةَ
وَأَبِي أُمَامَةَ
(TIRMIDZI - 2540): Telah menceritakan kepada kami Ibnu
Abi Umar dan Ahmad bin Mani' dan maknanya adalah sama, keduanya berkata, telah
menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari az Zuhri dari Salim dari
bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melewati seorang
laki-laki yang sedang menasihati saudaranya dalam masalah malu, maka Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Malu adalah sebagian dari
iman." Ahmad bin Mani' berkata tentang haditsnya 'Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam mendengar seorang laki-laki menasihati saudaranya dalam masalah malu'
maka dia berkata; 'Ini hadits hasan shahih. Dan dalam bab tersebut (juga
diriwayatkan) dari Abu Bakrah dan Abu Umamah.'
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مَالِكٌ حَدَّثَنَا
الزُّهْرِيُّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ
رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ كَانَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ
الْإِيمَانِ
(AHMAD - 4936): Telah menceritakan kepada kami Yahya bin
Sa'id telah menceritakan kepada kami Malik telah menceritakan kepada kami Az
Zuhri dari Salim dari Ayahnya, bahwa seorang laki-laki Anshar memberi nasehat
kepada saudaranya tentang rasa malu. Maka
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya rasa malu itu
bagian dari iman."
أَخْبَرَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْنٌ
قَالَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ وَالْحَارِثُ بْنُ مِسْكِينٍ قِرَاءَةً عَلَيْهِ وَأَنَا
أَسْمَعُ عَنْ ابْنِ الْقَاسِمِ أَخْبَرَنِي مَالِكٌ وَاللَّفْظُ لَهُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ
عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ
عَلَى رَجُلٍ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ
مِنْ الْإِيمَانِ
(NASAI - 4947) : Telah mengkhabarkan kepada kami Harun
bin Abdullah, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ma'n, dia berkata;
telah menceritakan kepada kami Malik dan Al Harits bin Miskin dengan membacakan
riwayat dan saya mendengar dari Ibnu Al Qasim, telah mengkhabarkan kepadaku
Malik dan lafazhnya adalah lafazh dia, dari
Ibnu Syihab dari Salim dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam melewati seorang laki-laki yang memberikan nasehat kepada saudaranya
mengenai rasa malu. Maka beliau bersabda: "TInggalkanlah dia, sesungguhnya
rasa malu itu sebagian dari keimanan."
حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ
سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ
الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ
(ABUDAUD - 4162) : Telah menceritakan kepada kami Al
Qa'nabi dari Malik dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah dari Ibnu Umar
bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
pernah melewati seorang laki-laki Anshar yang sedang menasihati saudaranya
karena sikap malu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda:
"Biarkanlah ia, sesungguhnya malu itu bagian dari iman."
حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ
مَنْصُورٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ
وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنْ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي
النَّارِ
(IBNUMAJAH - 4174) : Telah menceritakan kepada kami
Isma'il bin Musa telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Manshur dari Al
Hasan dari Abu Bakrah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda: "Malu itu sebagian dari iman, dan iman
akan berada di surga. Sedangkan perkataan kotor termasuk dari perangai buruk,
dan perangai buruk akan berada di neraka."
2.
Kajian
Historis
Dari sekian
banyak jalur periwayatan hadis yang disuguhkan diatas, tidak tampak adanya
pertentangan diantara satu hadis dengan hadis yang lainnya, semua menyatakan
bahwa malu adalah sebagian dari iman.
Dengan demikian,
penulis sebelum memberikan kajian pemaknaan terhadap matan hadis, mencoba untuk
mengungkap sedikit kredebilitas periwayat hadis dari berbagai runtutan sanadnya
secara sekilas. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kredibilitas perawi sehingga
bias disimpulkan bahwa hadis tersebut sahih atau dhaif. Penelitian sanad kami
fokuskan pada riwayat imam bukhari dari jalur Ahmad bin Yunus diteruskan kepada
Abdul Aziz bin Abu Salamah, Ibnu Syihab, salim, Abdullah bin Umar dan terakhir
mukharrij hadis ini, Imam Bukhari.
3.
Kajian
Linguistik
Kajian
linguistik dibutuhkan sebagai usaha memahami perbedaan-perbedaan lafadz yang
ditemukan diantara hadis-hadis yang semakna, ini dikarenakan banyaknya matan
hadis tersusun dengan lafadz yang berbeda apabila disandingkan dengan matan
hadis lain yang sama kualitasnya, serta dalam satu tema kajian. Tentunya hal
tersebut disebabkan adanya periwayatan hadis secara makna.
Mengingat bahasa
yang digunakan hadis adalah bahasa Arab yang memerlukan ketelitian dalam
memaknai dan memahaminya, maka kajian linguistik ini akan menyajikan makna
(arti) kata-kata dengan rujukan kamus-kamus bahasa arab dan yang berkaitan
dengan tata bahasa arab (Nahwu dan Sharaf). Berikut penulis mencoba memaparkan
matan hadis dengan kajian linguistik.
|
NAHWU
|
SHOROF
|
TERJEMAH
|
KALIMAT
|
|
Jazam dan Maf’ul Bih
|
Fiil Amar dan Maf’ul
|
Biarkanlah ia
|
دعه
|
|
-
|
Huruf
|
Maka
|
ف
|
|
-
|
Isim
|
Sesungguhnya
|
إن
|
|
Mansub, Fathah
|
Isim Ma’rifat
|
Sifat malu
|
الحياء
|
|
-
|
Huruf Jar
|
Sebahagian
|
من
|
|
Majrur, Kasrah
|
Isim Ma’rifat
|
Daripada iman
|
الإيمان
|
4.
Kajian
Tematis Komprehensif
Dalam kajian
pemaknaan hadis tentang malu adalah sebagian dari iman tersebut banyak
hadis-hadis yang mendukung atau relevan dengan tema yang diteliti. Adapun
hadis-hadis yang relevan dengan tema yang dikaji diantaranya adalah hadis yang
menjelaskan tentang hakikat malu kepada Allah swt. Berikut teks hadisnya :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ
عَنْ أَبَانَ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ الصَّبَّاحِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ مُرَّةَ
الْهَمْدَانِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ
الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا
وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ
الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ
اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
(TIRMIDZI-2382): Telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Musa telah menceritakan kepada kami Muhammad
bin 'Ubaid dari Aban bin Ishaq dari Ash Shabbah bin Muhammad dari Murrah Al Hamdani dari Abdullah bin Mas'ud berkata: Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa salam bersabda: "Malulah pada Allah dengan sebenarnya."
Berkata Ibnu Mas'ud: Kami berkata: Wahai Rasulullah, kami malu, alhamdulillah.
Beliau bersabda: "Bukan itu, tapi malu kepada Allah dengan sebenarnya adalah
kau menjaga kepala dan apa yang difahami dan perut beserta isinya, mengingat
kematian dan segala kemusnahan, barangsiapa menginginkan akhirat, ia
meninggalkan perhiasan dunia, barangsiapa melakukannya, ia malu kepada Allah
dengan sebenarnya."
Hadis
riwayat Imam Malik yang menjelaskan bahwa ciri khas agama Islam adalah
mempunyai sifat malu. Berikut teks hadisnya :
و
حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ سَلَمَةَ بْنِ صَفْوَانَ بْنِ سَلَمَةَ الزُّرَقِيِّ
عَنْ زَيْدِ بْنِ طَلْحَةَ بْنِ رُكَانَةَ يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقٌ وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ
(MALIK - 1406) : Telah menceritakan kepadaku dari Malik
dari Salamah bin Shafwan bin Salamah Az Zuraqi dari Zaid bin Thalhah bin
Rukanah dia memarfu'kan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dia berkata,
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap agama
memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu."
Hadis
riwayat Imam Tirmidzi dibawah ini menyatakan bahwa sifat malu akan menghiasi
pelakunya dengan hiasan yang indah. Berikut teks hadisnya :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ
الْأَعْلَى الصَّنْعَانِيُّ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا عَبْدُ
الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ وَمَا كَانَ
الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ
(TIRMIDZI - 1897) : Telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Abdul A'la Ash Shan'ani dan lebih dari satu orang, mereka berkata,
Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dari Ma'mar dari Tsabit dari Anas ia
berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah sifat
buruk berada dalam sesuatu kecuali akan memperburuknya, dan tidaklah sifat malu
ada dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya."
Hadis
riwayat Imam Bukhari menjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang pemalu
bahkan lebih pemalu dari gadis pingitan, sedangkan hadis riwayat Imam Tirmidzi
menyatakan bahwa sifat malu adalah sunnah para Nabi, Berikut teks hadisnya :
حَدَّثَنَا
عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ
سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ هُوَ ابْنُ أَبِي عُتْبَةَ مَوْلَى أَنَسٍ عَنْ أَبِي
سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنْ الْعَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا فَإِذَا
رَأَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ عَرَفْنَاهُ فِي وَجْهِهِ
(BUKHARI - 5637) : Telah menceritakan kepada kami Abdan
telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Syu'bah
dari Qatadah saya mendengar Abdullah yaitu Ibnu Abu 'Utbah bekas budak Anas,
dari Abu Sa'id Al Khudri dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah
sosok yang lebih pemalu daripada seorang gadis yang dipingit dalam rumah,
apabila beliau melihat sesuatu yang tidak disukainya, maka kami akan mengetahui
dari raut muka beliau."
حَدَّثَنَا
سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ عَنْ الْحَجَّاجِ عَنْ
مَكْحُولٍ عَنْ أَبِي الشِّمَالِ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ مِنْ سُنَنِ
الْمُرْسَلِينَ الْحَيَاءُ وَالتَّعَطُّرُ وَالسِّوَاكُ وَالنِّكَاحُ
(TIRMIDZI - 1000) : Telah menceritakan kepada kami Sufyan
bin Waki', telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari Al Hajjaj dari
Mahkul dari Abu Asy Syimal dari Abu Ayyub berkata; Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: "Empat hal yang termasuk sunnah para rasul:
malu, memakai wewangian, siwak, dan nikah."
5.
Kajian Konfirmatif
Untuk
memahami hadis-hadis tentang malu adalah sebagian dari iman dengan pemahaman
yang mendekati kebenaran, maka harus sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an yang
tidak diragukan lagi kebenarannya.
Oleh
karena itu, tidak ada hadis sahih yang kandungannya bertentangan dengan
ayat-ayat Al-Qur’an yang muhkamat. Jikalau masiah ada pertentangan antara
keduanya, maka terdapat beberapa kemungkinan, diantaranya pemahaman terhadap
hadis kurang tepat atau pertentangan pada hadis tersebut bersifat semu atau
tidak hakiki.
Hadis-hadis
tentang malu adalah sebgian dari iamn, ketika dikonfirmasi dengan ayat
A;-Qur’an dalam surat Al-Qashash (28) ayat 25 sebagai berikut :
فَجَاءتْهُ
إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاء قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ
لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ
الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Kemudian datanglah kepada Musa
salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata:
"Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap
(kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa mendatangi
bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya),
Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari
orang-orang yang zalim itu".
Dalam
tafsir al-Misbah karya Quraish Syihab dijelaskan, kata اسْتِحْيَاء terambil dari kata حياء yang artinya malu.
Penambahan huruf sin dan ta pada kata itu menunjukkan bersarnya rasa malu
tersebut. Kata ini bermaksud menyatakan bahwa wanita tersebut berjalan dengan
penuh hormat, tidak angkuh, tidak juga genit mengundang perhatian. Sayyid
Quthub menggaris bawahi kehadiran wanita dengan penuh malu itu, namun
–tulisnya- dia dating menyampaikan dengan kalimat singkat dan jelas. Rasa malu
yang disertai dengan kejelasan kalimat, tanpa gagap atau gugup, begitulah
keadaan seorang yang diilhami oleh fitrahnya yang suci. Wanita yang suci, malu
–berdasarkan fitrahnya- bertemu dengan pria atau berbicara dengan mereka.
Tetapi karena kepercayaan dirinya serta kesucian dan konsistensinya, dia tidak
gentar atau gugup, kegentaran yang mengandung keinginan, rayuan atau
rangsangan.[6]
Allah
tidak merasa malu untuk membuat perumpamaan kepada orang-orang kafir meskipun
itu hanyalah seekor nyamuk, surat Al-Baqarah (2) ayat 26 :
إِنَّ
اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ
وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَـذَا
مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيراً وَيَهْدِي بِهِ كَثِيراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ
الْفَاسِقِينَ
Sesungguhnya Allah tiada segan
membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun
orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari
Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan : "Apakah maksud Allah
menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak orang
yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang
diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang
yang fasik,
Menurut
hamka Allah membuat berbagai perumpamaan. Tuhan pernah mengumpamakan orang yang
mempersekutukan Allah dengan yang lain, adalah laksana laba-laba membuat
sarang. Sarang laba-laba adalah sangat rapuh (tersebut dalam surat al-Ankabut
ayat 41). Tuhanpun pernah mengambil perumpamaan dengan lalat, bahwa apa-apa
yang dipersekutukan oleh orang-orang musyirikin dengan Allah itu, jangankan
membuat alam, membuat seekor lalatpun mereka tidak bias (tersebut dalam surat
al-Haj ayat 73). Orang-orang munafik tidaklah memperhatikan isi, tetapi hendak
mencari kelemahan, missal yang dikemukakan Allah dengan maksud hendak
meremehkan Rasulullah, tetapi Allah menjelaskan bahwa apa yang dikatakan
Muhammad bukanlah perkatannya sendiri melainkan wahyu ilahi. Allah tidak malu
(segan) membuat perumpamaan sekecil nyamuk atau bahkan lebih kecil daripadanya.[7]
Allah
tidak malu untuk menegur sahabat-sahabat nab yang menunggu waktu Nabi makan dan
melarang untuk masuk ke rumah Nabi disaat Nabi sedang makan kecuali mereka
diundang, surat al-Ahzab (33) ayat 53 :
إِنَاهُ
وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانتَشِرُوا وَلَا
مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي
مِنكُمْ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ
مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاء حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ
وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَن
تَنكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِن بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِندَ اللَّهِ
عَظِيمًا
Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu
diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya),
tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah
kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan
mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah
tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan)
kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara
yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati
mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula)
mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya
perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.
Ayat
diatas menurut Ibnu Kasir dinamakan dengan ayatul hijab yang didalamnya
terdapat beberapa peraturan hokum syara’. Ayat ini turun ketika Nabi
melangsungkan pernikahan dengan Zainab Binti Jahasy, saat itu Nabi mengundang
para sahabatnya untuk merayakan pernikaannya, sesudah selesai makan dan minum
masih ada beberapa sahabat yang masi bercakap-cakap dirumah Nabi, hal ini
membuat NAbi rishi dan malu untuk menegur mereka sehingga turunlah ayat ini
yang menegur para sahabat Nabi dan Allah tidak malu untuk menjelaskan sesuatu
yang benar.[8]
6.
Analisis Realitas Historis
Dalam
penilaian matan hadis-hadis tentang malu adalah sebagian dari iman, penulis
menggunakan pendekatan bahasa (linguistik), historis dan sosiologis. Juga
dengan mempertinmbangkan teks-teks hadis yang setema (kajian
tematik-komprehensif), disamping itu juga dilakukan konfirmasi makna dari
petunjuk-petunjuk Al-Qur’an.
Pemaknaan
hadis dari analisa sisi kebahasaan (linguistik), telah dipaparkan pada
pembahasan sebelumnya. Konfirmasi dengan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an uga
dibahasan dalam sub bab sebelumya. Selanjutnya adalah analisis matan secara
umum setelah dianalisis sisi kebahasaan pada lafal redaksi matan hadis, didukung
oleh hadis-hadis relevan dengan tema dan konfirmasi petunjuk Al-Qur’an.
a. Analisis pemaknaan hadis
Hadis-hadis tentang malu adalah sebagian dari iman seharusnya
dimaknai secara kontekstual, karena teks hadis sudah sangat jelas menyatakan
bahwa sifat malu merupakan bagian dari iman dan mereflesikan keimanan
seseorang.
Dari beberapa hadis yang sudah disuguhkan diatas, bias diketahui
bahwasannya sifat malu merupakan bagian dari iman, malu adalah sifat atau
perasaan yang bias dicegah seseorang unruk melakukan perbuatan yang jelek
maupun merampas hak-hak orang lain. Malu adalah akhlak yang penting yang
mempengaruhi individu, keluarga dan masyarakat. Ketika rasa malu menghilang,
maka rusaklah tatana masyarakat. Malu adalah akhlak yang apabila kita menghiasi
diri dengannya, maka masyarakat akan menjadi tentang dan damai, setiap kali
rasa malu mengalami penurunan dari individu, maka problem di masyarakat akan
selalu meningkat. Ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh baginda Rasulullah
Muhammad saw:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ
الْأَعْلَى الصَّنْعَانِيُّ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا عَبْدُ
الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ وَمَا كَانَ
الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ
(TIRMIDZI
- 1897) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul A'la Ash Shan'ani
dan lebih dari satu orang, mereka berkata, Telah menceritakan kepada kami
Abdurrazzaq dari Ma'mar dari Tsabit dari Anas ia berkata; Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah sifat buruk berada dalam
sesuatu kecuali akan memperburuknya, dan tidaklah sifat malu ada dalam sesuatu
kecuali akan menghiasinya."
Sifat malu mempunyai peranan yang sangat besar dalam mengendalikan
hawa nafsu seseorang. Dengan sifat malu, seseorang tidak akan melakukan
perbuatan tercela. Seseorang yang memiliki sifat malu tidak akan mampu melihat
dirinya tercela dihadapan Allah, dihadapan manusia, dan bahkan dihadapan
dirinya sendiri. Orang yang memiliki sifat malu adalah orang yang mulia. Sifat
malu akan menjadikan seseorang mulia dihadapan Allah, dihadapan manusia, dan
dihadapan dirinya sendiri.
Sifat malu adalah perasaan yang hidup di dalam jiwa seseorang.
Suatu perasaan yang mengangkat pelakunya dari kehinaan dan cela, perasaan yang
membuat beberapa kegiatan negative menjadi mustahil dilakukan, seperti :
berbohong, mencuri, berciuman di tempat umum, berzina dan lain-lain. Seseorang
dikatakan pemalu karena kuatnya dorongan hati yang hidup yang selalu berusaha
untuk selalu menghindari segala sesuatu yang hina. Karena hati yang hidup,
seseorang dapat menghindari segala perbuatan yang membawa kepada kehinaan.
Disebutkan dalam sebuah hadis bahwasannya karakter agama Islam adalah mempunyai
sifat malu.
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ سَلَمَةَ
بْنِ صَفْوَانَ بْنِ سَلَمَةَ الزُّرَقِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ طَلْحَةَ بْنِ
رُكَانَةَ يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقٌ وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ
(MALIK -
1406) : Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Salamah bin Shafwan bin
Salamah Az Zuraqi dari Zaid bin Thalhah bin Rukanah dia memarfu'kan kepada Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam, dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda: "Setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah
malu."
Dijelaskan dalam buku “kepribadian dalam psikologi islam” karakter
malu memiliki sepuluh jenis :
1.
Karena
berbuat dosa atau salah (al-jinayah), seperti malunya Nabi Adam ketika
melarikan diri dari surge.
2.
Karena
keterbatasan diri (al-Taqshir), seperti malunya malaikat yang tidak bertasbih
ketika tibanya hari kiamat, padahal biasanya ia bertasbih kepada Allah siang
dan malam.
3.
Karena
mengagungkan (al-Ijlal) berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Semakin tinggi
pengetahuan akan keagungan tuhannya, maka ssemakin tinggi pula rasa malunya.
4.
Karena
kemuliaan (al-kiram), seperti malunya Nabi Muhammad menyuruh orang pulang dalam
suatu perjamuan, tetapi ia menggunakan isyarat bangkit dari tempat duduknya.
5.
Karena
menjaga etika (al-Hasymah), seperti Ali merasa malu bertanya kepada NAbi
mengenai persoalan madzi (lender yang lekuar dari alat kelamin mengiringi
hubungan seksual), karena hubungan mertua dan menantu.
6.
Karena
terhina (al-Istihqar) dan kecil hati (al-Istishghar), seperti malunya seorang
hamba yang banyak meminta kepada Tuhannya, sedangkan ibadah yang dilakukan
sangan sedikit.
7.
Karena
cinta (al-mahabbah) seperti malunya orang yang mencintai pada yang dicintai,
walaupun tanpa sebab yang jelas.
8.
Karena
rasa ibadah (al-Ubudiyyah), yaitu rasa malu yang bercampur antara rasa cinta
dan takut. Dengan ibadahnya yang sedikit ai merasa malu kepada Tuhannya yang
Agung.
9.
Karena
kemuliaan (al-Syarif), yaitu malunya orang yang telah berbuat baik kepada orang
lain. Dengan kemuliaannya, semakin banyak berbuat baik maka dirinya semakin
merasa malu.
10.
Malu
terhadap diri sendiri, karena dirinya dirasa masih kurang baiknya, sementara
orang lain selalu bain dalam pandangannya.[9]
b. Analisis Sosio-Historis
Setelah diperoleh pemahaman tekstual terhadap hads tentang malu
adalah sebagian dari iman melalui matan hadis, selanjutnya dilakukan upaya
menemukan konteks sosio-historis hadis-hadis tersebut. Langkah ini sangat
penting karena mengingat koleksi hadi adalah bagian dari realitas tradisi keislaman
yang dibangun oleh Nabi dan sahabatnya dalam lingkup situasi sosialny, sehingga
tidak akan terjadi distorsi informasi atau bahkan salah paham.[10]
Analisis historis ini mensyaratkan adanya kajian mengenai situasi
mikro, yakni sebab-sebab munculnya sebuah hadis (asbab wurud al-hadis), dan
situasi makro, yakni situasi kehidupan secara menyeluruh di Arabia pada saat
kehadiran Nabi Muhammad saw.[11]
Setelah mengadakan penelusuran terhadap literature sebab-sebab
munculnya sebuah hadis (asbab wurud al-hadis) tentang malu adalah sebagian dari
iman, penulis menemukan sebab khusus yang melahirkan hads yang sedang dikaji
ini. Adapun sebab khusus yang melahirkan hadis ini adalah : ketika Nabi
melewati seorang laki-laki dari kaum Anshar yang sedang menasehati saudaranya
tentang malu, seakan-akan dia berkata bahwa sifat malu temah mencelakaimi.
Melihat hal itu Nabi bersabda : malu adalah sebagian dari iman. Setelah
mengetahui asbab wurud al-hadis, penulis mencoba memaparkan melalui situasi
makro-nya, yakni situasi kehidupan secara menyeluruh di Arab. Dengan melihat
sosio-historis yang ada, kita bias memahami keadaan yang terjadi pada waktu
itu.
Dalam buku al-sirah al-nabawiyah dijelaskan tentang aqidah di
zaman jahiliyah, dikatakan bahwa pada saat itu rasa keagamaan bangsa Quraisy
sangant lemah. Hal ini tak lain disebabkan karena jauh dari masa kenabian dan
lama dalam kejahiliahan. Disamping itu mereka banyak terpengaruh oleh adanya
ajaran menyembah berhala yang tersebar di sekitar Jazirah Arabia, sehingga
sangat kuat sekali keyakinannya terhadap berhala-berhala.
Jumlah berhala yang ada di dalam Ka’bah dan sekitarnya da tiga
ratus enam puluh buah. Berhala yang paling terkemukan bernama Hubal yang
diletakkan di dalam Ka’bah. Selain itu di depan ka’bah terdapat dua berhala
yang bernama Isaaf dan Nailah. Sedangkan berhala yang paling besar yang diberi
nama Uzza, mereka diletakkan di dekat bukit Arafah, bahkan setiap rumah di
Makkah pasti ada berhala yang disembah oleh penghuninya. Bangsa Quraisy pada
wakti itu sangat tenggelam dalam lembah keberhalaan, mereka banyak percaya pada
segala macam khurafat atau tahayyul yang menyesatkan.[12]
Bahkan mereka akan memotong-motong berhala sesembahan mereka kemudian
memakannya. Satu-satunya dalih yang mereka nyatakan adalah mereka mengikuti
jejak nenek moyang mereka. Hal ini sesuai dengan apa yang digambarkan oleh
Al-Qur’an surat Al-Baqarah (2) ayat 170 :
وإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا
أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا
أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ
Dan
apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan
Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi
kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang
kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".
c. Analisis Generaliasi
Setelah menganalisa matan dan realitas historis hadis-hadis
tentang malu adalah sebagian dari iman, maka selanjutnya makna-makna yang telah
ditemukan dimaknai secara general dengan cara menangkap makna universal yang
tercakup dalam hads. Pemaknaan generalisasi pada tahap ini, membuka jalan bagi
pemaknaan hadis secara global. Pemaknaan hadis Nabi yang tepat dapat dijadikan
sebagai sebuah usaha merefleksian teks hadis, sehingga berfungsi sebagai wahana
perekam kejadian masa lalu yang mungkin dapat dipahami dalam memaknai situasi
kekinian.
Berdasarkan analisis isi dalam analisis realitas, maka ditemukan
makna tekstual hadis dan signifikansi konteksnya, kemudian digeneralisasikan
dengan menangka[ makna universal yang tercakup dalam hadis atau meminjam
istilah Fazlur Rahman kita temukan –“idel moral”- yang hendak diwujudkan sebuah
teks karena setiap pernyataan Nabi Muhammad saw. Harus diasumsikan, memiliki
tujuan moral-sosial yang bersifat universal.[13]
Dengan melihat pemaknaan tekstual dan kondisi sosio-historis
munculnya hadis-hadis tentang malu adalah sebagian dari iman, dapat ditarik
sebuah pesan inti, bahwa sifat malu adalah bagian dari iman, semakin kuat iman
seseorang makan sebakin kuat juga sifat malunya. Dengan sifat malu yang tumbuh
subur dalam sanubarinya seseorang akan dapat mengendalikan hawa nafsunya
sehingga ia akan jauh dari hal-hal yang menjijikkan baik dimata syariat atau
norma masyarakat.
7.
Kritik Praksis
Persoalan
moral senantiasa mewarnai kehidupan manusia dari masa ke masa. Seiring dengan gelombang
kehidupan ini, dalam setiap kurun dantempat tertentu muncul tokoh yang
memperjuangkan tegaknya nilai-nilai moral. Termasuk didalamnya keberadaan para
Rasul sebagai utusan Tuhan, khususnya Muhammad saw. Yang memiliki gitas dan
misi utama untuk menegakkan nilai-nilai moral. Upaya penegakan moral menjadi
sangat penting dalam rangka mencapai keharmonisan hidup.
Memasuki
era modern sekarang ini, persoalan moral tetap menjadi salah satu dari sekian
banyak kompleksitas persoalan kemanusiaan yang senantiasa harus dicermati
secara serius. Sebab seiring dengan laju modernitas kemajemukan dan
kompleksitas persoalan manusiapun semakin bertambah. Seiring dengan perjuangan
abadi manusia untuk menegakkan moral, Tuhan memberikan hidayah yang akan
menolongnya, yaitu Al-Qur’an dan diutusnya Muhammad sebagai Rasulullah di muka
bumi yang dihiasi dengan akhlaqul karimah.
Seiring
dengan kemajuan zaman, krises akhlak merambah semua komponen, mulai dari
politisi, birokrat, pendidik, pemikir, pengusaha, penguasa hingga rakyat
miskin. Menurut Said Agil Husain al_munawwar sumber krisis akhlak itu dapat
dilihat dari penyebab timbulnya yaitu :
1. Krisis akhlak terjadi karena longgarnya pegangan agama yang
menyebabkan hilangnya pengontrol diri dari dalam (self control). Krisis akhlak
terjadi karena pembinaan moral yang dilakukan orang tua, sekolah dan masyarakat
sudah kurang efektif.
2. Krisis akhlak terjadi disebabkan karena derasnya arus budaya hidup
materialistic, hedonistic, dan sekuleristik.
3. Krisis akhlak terjadi karena belum adanya kemauan yang
sungguh-sunggu dari pemerintah.[14]
Dengan
demikian pembinaan akhlak mulia merupakan keharusan mutlak dan tuntuna yang
tidak bias ditawar lagi. Keharusan mutlak ini harus menjadi kepedulian semua
pihak. Sebab akhlak mulia menjadi pilar tumuh dan berkembangnya peradaban suatu
bangsa. Kemampuan suatu bangsa untuk terus hidup dan berkembanga (survive)
ditentukan oleh kualtisa akhlaknya.
Namun
pembinaan akhlak mulia bukanlah hal yang ringan ditengah-tengah perkembangan
masyarakat yang semakin dinamis ini. Oleh karena itu membiasakan berakhlakul
karimah dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan dan seterusnya
merupakan suatu usaha untuk mewujudkan generasi yang bermoralitas Al-Qur’an.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pemaknaan
hadis tentang malu adalah sebagian dari iman perlu ditinjau kembali untuk
memperoleh pemahaman yang tepat. Iman merupakan landasan bagi setiap amal
perbuatan, baik yang menyangkit ibadah yang bersifat mahdlah (utama), maupun
yang menyangkut hal-hal yang bersifat ghoiru mahdlah (sekunder).
Salah
satu ciri dari orang yang beriman adalah malu (al-haya’), malu adalah sifat
atau perasaan yang bisa mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan yang jelek
maupun merampas hak-hak orang lain. Dengan sifat malu, seseorang tidak akan
melakukan perbuatan tercela. Seseorang yang memiliki sifat malu tidak akan
mampu melihat dirinya tercela dihadapan Allah, dihadapan manusia, dan bahkan
dihadapan dirinya sendiri. Sifat malu adalah perasaan yang hidup didalam jiwa
seseorang. Suatu perasaan yang mengangkat pelakunya dari kehinaan dan cela,
perasaan yang membuat beberapa kegiatan negative menjadi mustahil dilakukan.
Memasuki
era modern sekarang ini, keboborokan moral seakan sudah mewabah dikalangan
masyarakat luas, dengan menanamkan serta mengajarkan sifat malu kepada generasi
muda kita serta memberikan porsi yang lebih besar dalam system pendidikan di
bidang moral maka akan terbentuklah pribadi yang beriman dan bertakwa.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul
Mustaqim, Paradigma Integrasi-Interkoneksi dalam Memahami Hadis (Yogyakarta:
Bidang Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2008)
Suryadi
& Muhammad Alfatih S, Metodologi Penelitian Hadis (Yogyakarta: Teras, 2009)
Muhammad
Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis (Yogyakarta: Suka Press, 2012)
Suryadi,
dalam pengantar kuliah Studi Quran Hadis, PI-Pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, 2014.
M.
Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 8
(Jakarta: Lentera Hati, 2002)
Hamka,
Tafsir al-Azhar, Juz I (Jakarta: Pustaka Panjemas, 1982)
Abdul
Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, (Jakarta: TP. Raja Grafindo Persada,
2007)
Komaruddin
Hidayat, Memahami Bahasa Agama; Sebuah Kajian Hermeneutik (Jakarta: Paramadina,
1996)
Musahadi,
HAM, Evolusi KOnsep Sunnah: Implikasi Perkembanan Pada Hukum Islam. (Semarang:
Aneka Ilmu, 2000)
Abul
Hasan Ali al-Hasany an-Nadwy, Riwayat Hidup Rasulullah SAW., Terj. H. Bey
Arifin dan Yunus Ali Muhdhar (Surabaya: PT. BIna Ilmu, 1989)
M.
Fethullah Gulen, Versi Terdalam Kehidupan Rasulullah SAW, terj. Tri Wibowo Budi
Santoso (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002)
Said
Agil Husain Munawar, Aktualisasi Nilai-Nilai Qur’ni Dalam Sistim Pendidikan
Islam (Ciputat: PT. Ciputat Pers, 2005)
Lidwa
Pusaka I-Software – Kitab 9 Imam Hadits
Tidak ada komentar:
Posting Komentar