Senin, 03 November 2014

Teori kisah dalam Al-Qur'an dan relevansinya dengan pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an sebagai kitab terakhir, sebagai penutup segala kitab sebelumnya mempunyai keunggulan yang membuatnya istimewa dibandingkan dengan kitab suci yang lainnya.[1]
Al-Qur’an bukanlah legenda. Ia sepenuhnya berpijak kepada kejadian sejarah yang faktual. Kemurniannya selalu dijaga oleh Allah SWT. Dalam perjalanan sejarahnya yang panjang, Al-Qur’an dapat menghadapi tantangan zaman dan memenuhi kebutuhan manusia sebagai pedoman atau petunjuk yang teruji keasliannya sebagai wahyu Allah.
Al-Qur’an selain sebagai wahyu Allah juga merupakan hidayah yang memberikan petunjuk kepada manusia seluruhnya dalam persoalan-persoalan tasyri’, aqidah dan akhlak demi kebahagiaan di dunia dan di akherat. Allah telah memerintahkan kaum muslimin untuk selalu memahami dan menghayati hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akherat.
Dalam Al-Qur’an terdapat berbagai sejarah dan kisah yang pernah terjadi di zaman yang lampau kala manusia belum pandai menuliskan sejarah. Dengan menceritakan kisah semacam ini, Al-Qur’an tidak bermaksud memberikan hiburan atau memberi data sejarah, tetapi mendirikan suatu masyarakat yang berlandaskan ajaran-ajaran yang diberikannya, dan supaya manusia dapat mengambil pelajaran-pelajaran moral dari kehidupan para pendahulu mereka.[2]
Kisah dalam Al-Qur’an pada prinsipnya memuat asas-asas pendidikan, dan pendidikan di sini tidak hanya pendidikan psikologi tetapi aspek rasio juga dibutuhkan. Sesungguhnya kisah yang ada dalam Al-Qur’an benar-benar nyata dan sebagai peringatan bagi manusia untuk merenungkan kembali dari peristiwa yang agung. Seperti halnya yang telah diceritakan di dalam Al-Qur’an tentang ayat-ayat kisah Nabi dan umat-umat terdahulu. Dan bahkan Allah telah menceritakan kepada Rasulullah SAW dengan firman-Nya yang berbunyi:
y7Ï9ºxx. Èà)tR y7øn=tã ô`ÏB Ïä!$t7/Rr& $tB ôs% t,t7y 4 ôs%ur y7»oY÷s?#uä `ÏB $¯Rà$©! #\ò2ÏŒ
Artinya: “Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur'an).” (QS. Thaha : 99)
Allah juga berfirman tentang kisah-kisah orang terdahulu:
y7ù=Ï? 3tà)ø9$# Èà)tR y7øn=tã ô`ÏB $ygͬ!$t6/Rr& 4 ôs)s9ur öNåkøEuä!%y` Nßgè=ßâ ÏM»uZÉit7ø9$$Î/ $yJsù (#qçR$Ÿ2 (#qãZÏB÷sãÏ9 $yJÎ/ (#qç/¤Ÿ2 ÆÏB ã@ö6s% 4  
Artinya : “Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagai dari berita-berita kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata...” (QS. Al-A’raf: 101)
Suatu peristiwa yang berhubungan sebab dan akibat dapat menarik perhatian para pendengar, apabila dalam peristiwa itu terselip pesan-pesan dan pelajaran mengenai berita-berita bangsa terdahulu. Rasa ingin tahu merupakan faktor yang paling kuat yang dapat menanamkan kesan peristiwa tersebut ke dalam hati.
Dan nasehat dengan tutur kata yang disampaikan tanpa variasi tidak mampu menarik perhatian akal, bahkan semua isinya pun tidak akan bisa difahami. Akan tetapi bila nasehat itu dituangkan dalam bentuk kisah yang menggambarkan peristiwa dalam realita kehidupan maka akan terwujudlah dengan jelas tujuannya. Orang pun akan merasa senang mendengarnya memperhatikannya dengan penuh kerinduan dan rasa ingin tahu, dan pada gilirannya ia akan terpengaruh dengan nasihat dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Kesusastraan kisah dewasa ini telah menjadi seni yang khas di antara seni-seni bahasa dan kesusastraan. Dan “kisah yang benar” telah membuktikan kondisi ini dalam Uslub Arabi secara jelas dan menggambarkannya dalam bentuk yang paling tinggi, yaitu kisah-kisah Al-Qur’an.[3]
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an menyikapi beberapa peristiwa baik yang telah terjadi sebelum Al-Qur’an atau peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Dalam sebuah kisah paling tidak ada 4 hal yang terdapat di dalamnya yaitu: Pertama jenis peristiwa itu sendiri, kedua pelaku peristiwa, ketiga tempat peristiwa, keempat waktu peristiwa.[4]
Menurut Ahmad Syadzali juga menjelaskan bahwa sebuah kisah paling tidak memuat empat hal yaitu, pertama jenis peristiwa kedua, pelaku peristiwa, ketiga, tempat peristiwa, keempat, pelaku peristiwa. Jadi suatu peristiwa bisa digolongkan sebagai kisah apabila mencakup empat hal tersebut. Al-Qur’an menceritakan beberapa kejadian masa lalu, tentang umat-umat terdahulu dan syari’at-syari’atnya yang terhapus, orang-orang sekarang hampir tidak ada yang mengetahui kisah-kisah tersebut, kecuali hanya sebagian kecil ahli kitab yang mempelajarinya. Kisah yang ditampilkan Al-Qur’an disampaikan secara global dan terperinci dalam serial yang antara satu dengan seri yang lainnya saling berkaitan.[5]
Pada hakikatnya kisah-kisah Al-Qur’an merupakan sebuah khasanah tersendiri, yang sampai kapanpun tidak akan pernah habis dan ibarat sumber air yang tidak akan pernah habis (kering) tentang pelajaran, petunjuk dan peringatan, tentang keimanan dan aqidah, tentang amal dan dakwah, tentang jihad dan perlawanan, tentang logika dan retorika, tentang kesabaran dan keteguhan.
Sesungguhnya pelajaran yang ada dalam kisah-kisah Al-Qur’an hanya khusus bagi orang-orang yang berakal dan orang-orang yang memiliki nalar yang benar. Pandangan yang jernih dan perhatian yang kongkrit.
B.     Rumusan Masalah
Dari beberapa uraian di atas, maka permasalahan yang terkait dengan penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan Kisah dalam Al-Qur’an?
2.      Apa saja Macam-macam kisah dalam Al-Qur’an?
3.      Apa contoh kisah dalam Al-Qur’an?
4.      Apa relevansi kisah dalam Al-Qur’an dengan pendidikan ?


C.     Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan utama penelitian ini dilakukan untuk mengetahui, membahas dan menganalisa secara sistematis terhadap teori kisah dan nilai-nilai pendidikan kisah dalam Al-Qur’an.
Apabila tujuan utama tersebut diatas tercapai, maka kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut
1.      Dapat memahami maksud Kisah dalam Al-Qur’an
2.      Dapat mengerti Macam-macam kisah dalam Al-Qur’an
3.      Dapat mengetahui contoh kisah dalam Al-Qur’an
4.      Dapat merelevansikan kisah dalam Al-Qur’an dengan pendidikan




BAB  II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Kisah dalam Al-Qur’an
Kisah berasal dari kata al-qashshu yang berarti mencari atau mengikuti jejak. Dikatakan, “qashasshtu atsarahu” artinya, “saya mengikuti atau mencari jejaknya.” Kata al-qashash adalah bentuk masdar.[6] Seperti firman Allah:
tA$s% y7Ï9ºsŒ $tB $¨Zä. Æ÷ö7tR 4 #£s?ö$$sù #n?tã $yJÏdÍ$rO#uä $TÁ|Ás% ÇÏÍÈ
Artinya : قال (berkata): Musa – ذلك (itulah) tempat kita kehilangan ikan itu – ما (tempat) sesuatu – كنا نبغ (yang kita cari”) kita cari-cari, karena sesungguhnya hal itu merupakan pertanda bagi kita bahwa kita akan dapat bertemu dengan orang yang sedang kita cari. – فارتدا (lalu keduanya kembali) kembali lagi – على اثارهما (mengikuti jejak mereka semula) menitinya – قصصا (secara benar-benar) lalu keduanya sampai di batu besar tempat mereka beristirahat.[7]
Qashash Al-Qur’an adalah pemberitaan Al-Qur’an tentang hal ihwal umat yang telah lalu, nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Al-Qur’an banyak mengandung keterangan tentang kejadian masa lalu, sejarah bangsa-bangsa, keadaa negeri-negeri dan peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik dan mempesona.[8]


B.     Jenis-Jenis Kisah dalam Al-Qur’an
Kisah dalam Al-Qur’an diklasisfikasikan menjadi beberapa macam. Pertama: dari segi Waktu. Ditinjau dari segi waktu, kisah-kisah dalam Al-Qur’an ada tiga tahap, yaitu :
1.      Kisah hal gaib yang terjadi pada masa lalu. Contohnya kisah tentang dialog malaikat dengan Tuhannya mengenai penciptaan khalifah di muka bumi.
2.      Kisah gaib yang terjadi pada masa kini. Contohnya kisah tentang turunnya malaikat-malaikat pada malam lailatul qadar.
3.      Kisah hal gaib yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Contohnya kisah tentang Abu Lahab kelak di akhirat.
Kedua: dari segi Materi. Ditinjau dari segi materi kisah kisah dalam Al-Qur’an ada tiga tahap, yaitu:
1.      Kisah Para Nabi
Kisah ini mengandung dakwah mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap-sikap orang-orang yang memusuhinya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembangannya serta akibat-akibat yang diterima oleh mereka yang mempercayai dan golongan yang mendustakan. Misalnya kisah Nuh, Ibrahim, Musa, Harus, Isa, Muhammad dan nabi-nabi serta rasul lainnya
2.      Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan orang-orang yang tidak dipastikan kenabiannya. Misalnya orang yang keluar dari kampung halaman, yang beribu-ribu jumlahnya karena takut mati, kisah Talut dan Jalut, dua orang putra adam, penghuni gua, zulkarnain, orang-orang yang menangkap ikan pada hari Sabtu, Maryam, Ashabul Ukhdud, Ashabul Fil dan lain-lain
3.      Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah, seperti perang Badar dan perang Uhud dalam suarah Ali Imran, perang Hunain dan Tabuk dalam surat At-Taubah, perang Ahzab dalam surat Al-Ahzab, Hijrah, Isra Mi’raj, dan lain-lain.[9]
C.     Kisah Yusuf dalam Al-Qur’an
1.      Asbabun Nuzul Surat Yusuf
Imam Hakim telah meriwayatkan sebuah hadis, demikian pula imam-imam lainnya, melalui sa’ad ibnu Abu Waqqas yang telah menceritakan bahwasannya Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi SAW. Selama beberapa waktu, kemudian Nabi SAW. Membacakannya kepada mereka (para sahabat) selama beberapa masa. Lalu mereka berkata: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak pernah bercerita tentang kisah-kisah kepada kami?”.[10] Lalu Allah SWT menurunkan firman-Nya :
ª!$# tA¨tR z`|¡ômr& Ï]ƒÏptø:$# $Y6»tGÏ.    
Artinya : “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik – yaitu – Kitab.[11]
Akan tetapi menurut hadis yang diketengahkan oleh Imam Ibnu Abu Hatim ditambahkan, maka para sahabat berkata: “wahai Rasulullah, sudilah kiranya engkau menyebutkan kisah-kisah kepada kami”.[12] Lalu Allah SWT. Menurunkan firman-Nya :
 öNs9r& Èbù'tƒ tûïÏ%©#Ï9 (#þqãZtB#uä br& yìt±øƒrB öNåkæ5qè=è%
Artinya : öالم يأن(belum datang) maksudnya apakah belum tiba saatnya للذين ءامنوا (bagi orang-orang yang beriman) ayat ini diturunkan berkenaan dengan kelakuan para sahabat, yaitu sewaktu mereka banyak bergurau – ان تخشع قلو بهم (untuk tunduk hati mereka).[13]
Imam Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan bahwa para sahabat berkata kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah. Sudikah engkau menceritakan tentang kisah-kisah kepada kami?”. Lalu Allah menurunkan Firman-Nya :
ß`øtwU Èà)tR y7øn=tã z`|¡ômr& ÄÈ|Ás)ø9$# !$yJÎ/ !$uZøym÷rr&
Artinya : “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan”.[14]
Ibnu Murdawaih telah mengetengahkan pula hadis yang serupa, dengan mengambil jalur periwayatan yang bersumber dari Abdullah Ibnu Mas’ud r.a.[15]
2.       Kisah Nabi Yusuf sebagai kisah yang paling baik dalam Al-Qur’an
Al-Qur'an mengawali kisah Yusuf saat ia masih muda. Ia bermimpi melihat sebelas bintangmatahari, dan bulan bersujud padanya (Yusuf 12:4). Mimpi itu ia beritahukan kepada ayahnya, Yaqub yang menyuruhnya agar tidak memberitahukan mimpi itu kepada saudara-saudaranya yang pencemburu (Yusuf 12:5). Yusuf juga merupakan anak yang paling disayangi Yaqub, sehingga saudaranya merasa cemburu dan mereka merencanakan suatu rencana untuk membuang Yusuf (Yusuf 12:8). Saudara-saudara Yusuf meminta izin pada Yaqub untuk membawa Yusuf pergi bersama mereka, dan mereka diizinkan. Dalam perjalanan, Yusuf dimasukkan ke dalam sumur dan ditinggal pergi oleh saudara-saudaranya hingga kemudian ia ditemukan oleh kafilah dagang yang kemudian menjualnya di Mesir. Orang yang membeli Yusuf adalah Qithfir, seorang raja Mesir yang mempunyai julukan Al Aziz.
Yusuf di dalam Al-Qur'an dikatakan sebagai pria tertampan di dunia. Pernyataan ini digambarkan ketika Yusuf tumbuh remaja, istri tuannya yang bernama Zulaikha menggodanya karena tidak bisa menahan daya tarik ketampanannya dan setiap wanita yang melihatnya pasti terkesima, namun Yusuf menolaknya (Yusuf 12:23). Sehingga ia mengancam Yusuf akan dipenjarakan, jika tidak mengikuti perintahnya (Yusuf 12:32). Namun, Yusuf tetap teguh dan ia akhirnya dipenjarakan (Yusuf 12:33). Yusuf dipenjarakan bersama dua orang tahanan.
Di dalam penjara, mereka mengetahui bahwa Yusuf memiliki kejujuran yang tinggi dan dapat menafsirkan mimpi (Yusuf 12:36). Yusuf berhasil dalam menafsirkan mimpi 2 tahanan lainnya, mimpi mereka adalah bahwa salah satu dari mereka akan dihukum mati, dan yang lainnya akan dibebaskan dan kembali bekerja sebagai penuang air minum raja. Maka, Yusuf meminta pada temannya yang akan dibebaskan untuk mengemukakan masalahnya kepada raja. Namun, ketika dibebaskan, ia melupakan Yusuf, sehingga ia tetap dipenjara.
Beberapa tahun kemudian, raja bermimpi dan menanyakan apa artinya. Penuang minuman tersebut akhirnya ingat pada Yusuf, dan ia menanyakan Yusuf apa arti mimpi raja. Yusuf menafsirkan mimpi raja bahwa akan terjadi tujuh panen yang berlimpah, kemudian diikuti tujuh panen yang sedikit, dan kemudian ada tahun yang penuh dengan hujan. Raja yang mendengar tafsir Yusuf, akhirnya memanggilnya. Namun, sebelumnya Yusuf meminta kepada orang-orang yang menuduhnya ditanyai apa yang sebenarnya terjadi. Zulaikha akhirnya mengakui apa yang dilakukannya pada Yusuf. Yusuf akhirnya dibebaskan dan raja menghendaki ia bekerja untuknya. Yusuf akhirnya meminta agar ia ditugaskan untuk mengurus hasil bumi di negeri itu.
Selama tahun-tahun yang diramalkan paceklik, saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk meminta makanan. Mereka diperbolehkan menghadap Yusuf yang mengenal mereka, namun mereka tidak. Yusuf meminta mereka jika ingin meminta makanan lagi, mereka diharuskan membawa adik laki-laki bungsu mereka. Mereka akhirnya membawa adik bungsu mereka pada pertemuan berikutnya. Pada adik bungsunya itulah, Yusuf mengungkapkan kisahnya bahwa ia dipelakukan jahat oleh kakak-kakaknya. Yusuf akhirnya bekerja sama dengan adiknya. Adiknya untuk sementara ditinggal bersamanya. Yusuf berpura-pura bahwa adiknya ditahan karena mencuri gelas minum raja. Pada saat itu juga, Yaqub kehilangan penglihatannya karena merasa kehilangan Yusuf dan saudaranya.
Ketika saudara-saudara Yusuf datang lagi kepadanya, Yusuf mengungkapkan jati dirinya pada mereka. Saudara-saudara Yusuf akhirnya meminta maaf atas tindakan mereka. Yusuf kemudian meminta mereka membawakan bajunya kepada ayahnya dan mengusapkan pada wajah ayahnya untuk memulihkan penglihatannya dan juga memerintahkan mereka untuk membawa orangtua dan keluarga mereka ke Mesir. Setelah tiba di Mesir, orang tua dan saudara-saudaranya bersujud untuk menghormatinya. Yusuf kemudian mengingatkan akan mimpinya di masa muda yang ditafsirkan oleh ayahnya; sebelas planetmatahari, dan bulan bersujud padanya
D.    Relevansi Kisah Dalam Al-Qur’an Dengan Pendidikan
Kisah Nabi Yusuf as dalam Al-Qur’an berbeda dengan kisah nabi-nabi Allah SWT lainnya, sebagai berikut:
a.       Kisah Nabi Yusuf as secara khusus diceritakan secara runtut dalam satu surat tersendiri dalam Al-Qur’an, yakni Surat Yusuf sedangkan nabi-nabi yang lain diceritakan dan disebutkan di beberapa surat.
b.      Isi kisah Nabi Yusuf as dalam Al-Qur’an berbeda pula dengan nabi-nabi yang lain, Allah SWT menitik beratkan kepada tantangan yang bermacam-macam dari kaum mereka, kemudian mengakhiri kisah itu dengan kemusnahan para penentang para nabi itu. Sedang dalam kisah Yusuf as, Allah SWT menonjolkan akibat yang baik dari kesabaran, serta menunjukkan bahwa kesenangan dan kebahagiaan datangnya setelah penderitaan berupa berbagai ujian dan cobaan.
c.       Sisi kehidupan keagamaan Nabi Yusuf as lebih ditonjolkan daripada aspek kepribadiannya yang lain. Hal itu tersirat dalam tahapan-tahapan dari peristiwa-peristiwa yang tejadi dalam kisah ini.
Karena sisi kehidupan keagamaan Yusuf as jauh lebih ditekankan dalam Al-Qur’an daripada aspek kepribadianya yang lain. Maka kisah ini mengandung nilai-nilai pendidikan abadi yang sangat bermanfaat bagi kehidupan ini. Diantara nilai-nilai itu adalah kedamaian, penghargaan, cinta, toleransi, kejujuran, kerendahan hati, kerjasama, kebahagiaan, tanggung jawab, kesederhanaan, kebebasan, persatuan, dan kesabaran. Sifat dari nilai-nilai pendidikan ini bersifat universal serta abadi sebagai pedoman dalam kehidupan. Lain dari pada itu nilai-nilai tersebut menguatkan sendi-sendi kehidupan dalam beragama, bermasayarakat, berbangsa, dan bernegara.


Ada delapan pelajaran yang dapat kita petik dari kisah nabi Yusuf dalam Al-Qur’an, diantaranya sebagai berikut :
1.      Pelajaran tentang perlunya mewaspadai kaum pendengki dengan cara merahasiakan berita yang mungkin dapat mengusik mereka
2.      Pelajaran tentang pentingnya menghadirkan kesabaran dalam menghadapi makar musuh
3.      Pelajaran tentang kesadaran akan keniscayaan ujian yang akan datang silih berganti
4.      Pelajaran tentang dakwah yang tidak kenal henti
5.      Pelajaran tentang pentingnya para da’i memiliki keunggulan ilmu
6.      Pelajaran tentang perlunya melakukan upaya rehabilitasi citra dakwah.
7.      Pelajaran tentang kesiapan para da’i berkontribusi dan memikul tanggung jawab kenegaraan.
8.      Pelajaran tentang keharusan berbuat baik dan memaafkan kesalahan kaum pendengki
E.     Fungsi Kisah Dalam Al-Qur’an
1.      Informatif
2.      Reflektif
3.      Motivasi
4.      Justifikatif
5.      Korektif
6.      Unsur-unsur kisah
1.      Tokoh
2.      Peristiwa
3.      Dialog


BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Kisah berasal dari kata al-qashshu yang berarti mencari atau mengikuti jejak. Dikatakan, “qashasshtu atsarahu” artinya, “saya mengikuti atau mencari jejaknya.” Kata al-qashash adalah bentuk masdar.
Kisah dalam Al-Qur’an diklasisfikasikan menjadi dua macam. Pertama: dari segi waktu, pertama; kisah hal gaib yang terjadi pada masa lalu, kedua; kisah hal gaib yang terjadi pada masa Rasulullah, ketiga; kisah hal gaib yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Kedua: dari segi materi, pertama; kisah para nabi, kedua; kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan orang-orang yang tidak dipastikan kenabiannya, ketiga; Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah.
kehidupan keagamaan Yusuf as jauh lebih ditekankan dalam Al-Qur’an daripada aspek kepribadianya yang lain. Maka kisah ini mengandung nilai-nilai pendidikan abadi yang sangat bermanfaat bagi kehidupan ini. Diantara nilai-nilai itu adalah kedamaian, penghargaan, cinta, toleransi, kejujuran, kerendahan hati, kerjasama, kebahagiaan, tanggung jawab, kesederhanaan, kebebasan, persatuan, dan kesabaran. Sifat dari nilai-nilai pendidikan ini bersifat universal serta abadi sebagai pedoman dalam kehidupan. Lain dari pada itu nilai-nilai tersebut menguatkan sendi-sendi kehidupan dalam beragama, bermasayarakat, berbangsa, dan bernegara.


DAFTAR PUSTAKA
Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Ayat Jilid 1 dan 2, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2013)
TM. Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990)
S.M. Suhufi, Kisah-kisah dalam Al-Qur’an, (Bandung: PT. Al-Bayan, 1994)
Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, terj. (Jakarta: Lentera Antar Nusa dan Pustaka Islami, 2000)
Ahmad Syadzali, et.al., Ulumul Qur’an II, (Bandung: Pustaka Setia, Cet. I, 1997).
Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki, Keistimewaan-keistimewaan Al-Qur’an, terj. Nur Faizin, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, cet. I, 2001).
Syaikh Manna Al-Qathathan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006)


       [1]. TM. Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, , 1990), hlm. 139
       [2]. S.M. Suhufi, Kisah-kisah dalam Al-Qur’an, (Bandung: PT. Al-Bayan,  1994), hlm. 7
       [3]. Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, terj. (Jakarta: Lentera Antar Nusa dan Pustaka Islami, 2000), hlm. 435
       [4]. Ahmad Syadzali, et.al., Ulumul Qur’an II, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), Cet. I, hlm. 31
       [5]. Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki, Keistimewaan-keistimewaan Al-Qur’an, terj. Nur Faizin, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, cet. I, 2001), hlm. 46
       [6].Syaikh Manna Al-Qathathan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006), hlm. 387.
       [7].Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain berikut asbabun nuzul ayat Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2013), hlm. 27
       [8]. Syaikh Manna Al-Qathathan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an …, hlm. 387.
       [9].Ibid, hlm. 388.
       [10]. Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain Jilid 1… hlm. 935.
       [11]. Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain Jilid 2… hlm. 681.
       [12]. Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain Jilid 1… hlm. 935.
       [13].Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain Jilid 2… hlm. 1027.
       [14].Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain Jilid 1… hlm. 889
       [15]. Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain Jilid 1… hlm. 935

Tidak ada komentar:

Posting Komentar