BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Al-Qur’an
sebagai kitab terakhir, sebagai penutup segala kitab sebelumnya mempunyai
keunggulan yang membuatnya istimewa dibandingkan dengan kitab suci yang
lainnya.[1]
Al-Qur’an
bukanlah legenda. Ia sepenuhnya berpijak kepada kejadian sejarah yang faktual.
Kemurniannya selalu dijaga oleh Allah SWT. Dalam perjalanan sejarahnya yang
panjang, Al-Qur’an dapat menghadapi tantangan zaman dan memenuhi kebutuhan
manusia sebagai pedoman atau petunjuk yang teruji keasliannya sebagai wahyu
Allah.
Al-Qur’an
selain sebagai wahyu Allah juga merupakan hidayah yang memberikan petunjuk
kepada manusia seluruhnya dalam persoalan-persoalan tasyri’, aqidah dan akhlak
demi kebahagiaan di dunia dan di akherat. Allah telah memerintahkan kaum
muslimin untuk selalu memahami dan menghayati hikmah-hikmah yang terkandung di
dalamnya agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akherat.
Dalam Al-Qur’an
terdapat berbagai sejarah dan kisah yang pernah terjadi di zaman yang lampau
kala manusia belum pandai menuliskan sejarah. Dengan menceritakan kisah semacam
ini, Al-Qur’an tidak bermaksud memberikan hiburan atau memberi data sejarah,
tetapi mendirikan suatu masyarakat yang berlandaskan ajaran-ajaran yang
diberikannya, dan supaya manusia dapat mengambil pelajaran-pelajaran moral dari
kehidupan para pendahulu mereka.[2]
Kisah
dalam Al-Qur’an pada prinsipnya memuat asas-asas pendidikan, dan pendidikan di
sini tidak hanya pendidikan psikologi tetapi aspek rasio juga dibutuhkan. Sesungguhnya kisah yang ada dalam Al-Qur’an benar-benar nyata dan
sebagai peringatan bagi manusia untuk merenungkan kembali dari peristiwa yang
agung. Seperti halnya yang telah diceritakan di dalam Al-Qur’an tentang
ayat-ayat kisah Nabi dan umat-umat terdahulu. Dan bahkan Allah telah
menceritakan kepada Rasulullah SAW dengan firman-Nya yang berbunyi:
y7Ï9ºxx.
Èà)tR
y7øn=tã
ô`ÏB
Ïä!$t7/Rr&
$tB
ôs%
t,t7y
4 ôs%ur
y7»oY÷s?#uä
`ÏB
$¯Rà$©!
#\ò2Ï
Artinya: “Demikianlah Kami kisahkan
kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah
Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur'an).” (QS. Thaha
: 99)
Allah juga berfirman tentang
kisah-kisah orang terdahulu:
y7ù=Ï? 3tà)ø9$# Èà)tR y7øn=tã ô`ÏB $ygͬ!$t6/Rr& 4
ôs)s9ur öNåkøEuä!%y` Nßgè=ßâ ÏM»uZÉit7ø9$$Î/ $yJsù (#qçR$2 (#qãZÏB÷sãÏ9 $yJÎ/ (#qç/¤2 ÆÏB ã@ö6s% 4
Artinya : “Negeri-negeri (yang telah
Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagai dari berita-berita kepadamu. Dan
sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa
bukti-bukti yang nyata...” (QS. Al-A’raf: 101)
Suatu
peristiwa yang berhubungan sebab dan akibat dapat menarik perhatian para
pendengar, apabila dalam peristiwa itu terselip pesan-pesan dan pelajaran
mengenai berita-berita bangsa terdahulu. Rasa ingin tahu merupakan faktor yang
paling kuat yang dapat menanamkan kesan peristiwa tersebut ke dalam hati.
Dan
nasehat dengan tutur kata yang disampaikan tanpa variasi tidak mampu menarik
perhatian akal, bahkan semua isinya pun tidak akan bisa difahami. Akan tetapi
bila nasehat itu dituangkan dalam bentuk kisah yang menggambarkan peristiwa
dalam realita kehidupan maka akan terwujudlah dengan jelas tujuannya. Orang pun
akan merasa senang mendengarnya memperhatikannya dengan penuh kerinduan dan
rasa ingin tahu, dan pada gilirannya ia akan terpengaruh dengan nasihat dan
pelajaran yang terkandung di dalamnya. Kesusastraan kisah dewasa ini telah
menjadi seni yang khas di antara seni-seni bahasa dan kesusastraan. Dan “kisah
yang benar” telah membuktikan kondisi ini dalam Uslub Arabi secara jelas dan
menggambarkannya dalam bentuk yang paling tinggi, yaitu kisah-kisah Al-Qur’an.[3]
Kisah-kisah
dalam Al-Qur’an menyikapi beberapa peristiwa baik yang telah terjadi sebelum Al-Qur’an
atau peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Dalam sebuah kisah paling tidak ada
4 hal yang terdapat di dalamnya yaitu: Pertama jenis peristiwa itu sendiri,
kedua pelaku peristiwa, ketiga tempat peristiwa, keempat waktu peristiwa.[4]
Menurut
Ahmad Syadzali juga menjelaskan bahwa sebuah kisah paling tidak memuat empat
hal yaitu, pertama jenis peristiwa kedua, pelaku peristiwa, ketiga, tempat
peristiwa, keempat, pelaku peristiwa. Jadi suatu peristiwa bisa digolongkan
sebagai kisah apabila mencakup empat hal tersebut. Al-Qur’an menceritakan
beberapa kejadian masa lalu, tentang umat-umat terdahulu dan
syari’at-syari’atnya yang terhapus, orang-orang sekarang hampir tidak ada yang
mengetahui kisah-kisah tersebut, kecuali hanya sebagian kecil ahli kitab yang
mempelajarinya. Kisah yang ditampilkan Al-Qur’an disampaikan secara global dan
terperinci dalam serial yang antara satu dengan seri yang lainnya saling
berkaitan.[5]
Pada
hakikatnya kisah-kisah Al-Qur’an merupakan sebuah khasanah tersendiri, yang
sampai kapanpun tidak akan pernah habis dan ibarat sumber air yang tidak akan
pernah habis (kering) tentang pelajaran, petunjuk dan peringatan, tentang
keimanan dan aqidah, tentang amal dan dakwah, tentang jihad dan perlawanan,
tentang logika dan retorika, tentang kesabaran dan keteguhan.
Sesungguhnya
pelajaran yang ada dalam kisah-kisah Al-Qur’an hanya khusus bagi orang-orang
yang berakal dan orang-orang yang memiliki nalar yang benar. Pandangan yang
jernih dan perhatian yang kongkrit.
B.
Rumusan
Masalah
Dari
beberapa uraian di atas, maka permasalahan yang terkait dengan penelitian ini
dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1.
Apa
yang dimaksud dengan Kisah dalam Al-Qur’an?
2.
Apa
saja Macam-macam kisah dalam Al-Qur’an?
3.
Apa
contoh kisah dalam Al-Qur’an?
4.
Apa
relevansi kisah dalam Al-Qur’an dengan pendidikan ?
C.
Tujuan
dan Kegunaan Penelitian
Tujuan
utama penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui, membahas dan menganalisa secara sistematis terhadap teori kisah
dan nilai-nilai pendidikan kisah dalam Al-Qur’an.
Apabila
tujuan utama tersebut diatas tercapai, maka kegunaan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut
1.
Dapat
memahami maksud Kisah dalam Al-Qur’an
2.
Dapat
mengerti Macam-macam kisah dalam Al-Qur’an
3.
Dapat
mengetahui contoh kisah dalam Al-Qur’an
4.
Dapat
merelevansikan kisah dalam Al-Qur’an dengan pendidikan
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kisah dalam Al-Qur’an
Kisah berasal dari kata al-qashshu
yang berarti mencari atau mengikuti jejak. Dikatakan, “qashasshtu atsarahu”
artinya, “saya mengikuti atau mencari jejaknya.” Kata al-qashash adalah
bentuk masdar.[6]
Seperti firman Allah:
tA$s% y7Ï9ºs $tB $¨Zä. Æ÷ö7tR 4 #£s?ö$$sù #n?tã $yJÏdÍ$rO#uä $TÁ|Ás% ÇÏÍÈ
Artinya : قال (berkata): Musa – ذلك (itulah) tempat kita kehilangan
ikan itu – ما
(tempat) sesuatu – كنا نبغ (yang kita cari”) kita cari-cari, karena sesungguhnya
hal itu merupakan pertanda bagi kita bahwa kita akan dapat bertemu dengan orang
yang sedang kita cari. – فارتدا (lalu keduanya kembali) kembali lagi – على
اثارهما
(mengikuti jejak mereka semula) menitinya – قصصا (secara benar-benar) lalu keduanya sampai di batu besar
tempat mereka beristirahat.[7]
Qashash Al-Qur’an adalah pemberitaan Al-Qur’an tentang
hal ihwal umat yang telah lalu, nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan
peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Al-Qur’an banyak mengandung keterangan
tentang kejadian masa lalu, sejarah bangsa-bangsa, keadaa negeri-negeri dan
peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan
cara yang menarik dan mempesona.[8]
B.
Jenis-Jenis
Kisah dalam Al-Qur’an
Kisah
dalam Al-Qur’an diklasisfikasikan menjadi beberapa macam. Pertama: dari segi
Waktu. Ditinjau dari segi waktu, kisah-kisah dalam Al-Qur’an ada tiga tahap,
yaitu :
1.
Kisah
hal gaib yang terjadi pada masa lalu. Contohnya kisah tentang dialog malaikat
dengan Tuhannya mengenai penciptaan khalifah di muka bumi.
2.
Kisah
gaib yang terjadi pada masa kini. Contohnya kisah tentang turunnya
malaikat-malaikat pada malam lailatul qadar.
3.
Kisah
hal gaib yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Contohnya kisah tentang
Abu Lahab kelak di akhirat.
Kedua:
dari segi Materi. Ditinjau dari segi materi kisah kisah dalam Al-Qur’an ada
tiga tahap, yaitu:
1.
Kisah
Para Nabi
Kisah ini mengandung dakwah mereka kepada kaumnya,
mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap-sikap orang-orang yang
memusuhinya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembangannya serta akibat-akibat
yang diterima oleh mereka yang mempercayai dan golongan yang mendustakan.
Misalnya kisah Nuh, Ibrahim, Musa, Harus, Isa, Muhammad dan nabi-nabi serta
rasul lainnya
2.
Kisah-kisah
yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan
orang-orang yang tidak dipastikan kenabiannya. Misalnya orang yang keluar dari
kampung halaman, yang beribu-ribu jumlahnya karena takut mati, kisah Talut dan
Jalut, dua orang putra adam, penghuni gua, zulkarnain, orang-orang yang
menangkap ikan pada hari Sabtu, Maryam, Ashabul Ukhdud, Ashabul Fil dan
lain-lain
3.
Kisah-kisah
yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah,
seperti perang Badar dan perang Uhud dalam suarah Ali Imran, perang Hunain dan
Tabuk dalam surat At-Taubah, perang Ahzab dalam surat Al-Ahzab, Hijrah, Isra
Mi’raj, dan lain-lain.[9]
C.
Kisah
Yusuf dalam Al-Qur’an
1.
Asbabun
Nuzul Surat Yusuf
Imam Hakim telah meriwayatkan sebuah
hadis, demikian pula imam-imam lainnya, melalui sa’ad ibnu Abu Waqqas yang
telah menceritakan bahwasannya Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi SAW. Selama
beberapa waktu, kemudian Nabi SAW. Membacakannya kepada mereka (para sahabat)
selama beberapa masa. Lalu mereka berkata: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau
tidak pernah bercerita tentang kisah-kisah kepada kami?”.[10] Lalu Allah SWT menurunkan
firman-Nya :
ª!$# tA¨tR z`|¡ômr& Ï]Ïptø:$# $Y6»tGÏ. …
Artinya : “Allah telah menurunkan
perkataan yang paling baik – yaitu – Kitab.[11]
Akan tetapi menurut hadis yang
diketengahkan oleh Imam Ibnu Abu Hatim ditambahkan, maka para sahabat berkata:
“wahai Rasulullah, sudilah kiranya engkau menyebutkan kisah-kisah kepada kami”.[12] Lalu Allah SWT. Menurunkan
firman-Nya :
öNs9r& Èbù't tûïÏ%©#Ï9 (#þqãZtB#uä br& yìt±ørB öNåkæ5qè=è% …
Artinya : öالم
يأن(belum datang) maksudnya apakah belum tiba saatnya للذين ءامنوا (bagi orang-orang yang beriman) ayat ini
diturunkan berkenaan dengan kelakuan para sahabat, yaitu sewaktu mereka banyak
bergurau – ان
تخشع قلو بهم (untuk tunduk hati mereka).[13]
Imam
Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang telah
menceritakan bahwa para sahabat berkata kepada Rasulullah SAW: “Wahai
Rasulullah. Sudikah engkau menceritakan tentang kisah-kisah kepada kami?”. Lalu
Allah menurunkan Firman-Nya :
ß`øtwU Èà)tR y7øn=tã z`|¡ômr& ÄÈ|Ás)ø9$# !$yJÎ/ !$uZøym÷rr& …
Artinya
: “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan”.[14]
Ibnu
Murdawaih telah mengetengahkan pula hadis yang serupa, dengan mengambil jalur
periwayatan yang bersumber dari Abdullah Ibnu Mas’ud r.a.[15]
2.
Kisah Nabi Yusuf sebagai kisah yang paling baik dalam
Al-Qur’an
Al-Qur'an mengawali kisah Yusuf saat ia
masih muda. Ia bermimpi melihat sebelas bintang, matahari,
dan bulan bersujud
padanya (Yusuf 12:4). Mimpi itu ia beritahukan kepada
ayahnya, Yaqub yang
menyuruhnya agar tidak memberitahukan mimpi itu kepada saudara-saudaranya yang
pencemburu (Yusuf 12:5). Yusuf juga merupakan anak yang paling
disayangi Yaqub, sehingga saudaranya merasa cemburu dan mereka merencanakan
suatu rencana untuk membuang Yusuf (Yusuf 12:8). Saudara-saudara Yusuf meminta izin pada
Yaqub untuk membawa Yusuf pergi bersama mereka, dan mereka diizinkan. Dalam
perjalanan, Yusuf dimasukkan ke dalam sumur dan ditinggal pergi oleh
saudara-saudaranya hingga kemudian ia ditemukan oleh kafilah dagang yang
kemudian menjualnya di Mesir. Orang yang membeli Yusuf adalah Qithfir,
seorang raja Mesir yang mempunyai julukan Al Aziz.
Yusuf di dalam Al-Qur'an dikatakan sebagai pria tertampan
di dunia. Pernyataan ini digambarkan ketika Yusuf tumbuh remaja, istri tuannya
yang bernama Zulaikha menggodanya
karena tidak bisa menahan daya tarik ketampanannya dan setiap wanita yang
melihatnya pasti terkesima, namun Yusuf menolaknya (Yusuf 12:23). Sehingga ia mengancam Yusuf akan
dipenjarakan, jika tidak mengikuti perintahnya (Yusuf 12:32). Namun, Yusuf tetap teguh dan ia
akhirnya dipenjarakan (Yusuf 12:33). Yusuf dipenjarakan bersama dua orang
tahanan.
Di dalam penjara, mereka mengetahui bahwa Yusuf memiliki
kejujuran yang tinggi dan dapat menafsirkan mimpi (Yusuf
12:36). Yusuf berhasil dalam menafsirkan mimpi
2 tahanan lainnya, mimpi mereka adalah bahwa salah satu dari mereka akan dihukum
mati, dan yang lainnya akan dibebaskan dan kembali bekerja sebagai penuang air
minum raja.
Maka, Yusuf meminta pada temannya yang akan dibebaskan untuk mengemukakan
masalahnya kepada raja. Namun, ketika dibebaskan, ia melupakan Yusuf, sehingga
ia tetap dipenjara.
Beberapa tahun kemudian, raja bermimpi dan
menanyakan apa artinya. Penuang minuman tersebut akhirnya ingat pada Yusuf, dan
ia menanyakan Yusuf apa arti mimpi raja. Yusuf menafsirkan mimpi raja bahwa akan
terjadi tujuh panen yang
berlimpah, kemudian diikuti tujuh panen yang sedikit, dan kemudian ada tahun
yang penuh dengan hujan. Raja yang mendengar tafsir Yusuf, akhirnya
memanggilnya. Namun, sebelumnya Yusuf meminta kepada orang-orang yang
menuduhnya ditanyai apa yang sebenarnya terjadi. Zulaikha akhirnya mengakui apa
yang dilakukannya pada Yusuf. Yusuf akhirnya dibebaskan dan raja menghendaki ia
bekerja untuknya. Yusuf akhirnya meminta agar ia ditugaskan untuk mengurus
hasil bumi di negeri itu.
Selama tahun-tahun yang diramalkan paceklik, saudara-saudara
Yusuf datang ke Mesir untuk meminta makanan. Mereka diperbolehkan menghadap
Yusuf yang mengenal mereka, namun mereka tidak. Yusuf meminta mereka jika ingin
meminta makanan lagi, mereka diharuskan membawa adik laki-laki bungsu mereka.
Mereka akhirnya membawa adik bungsu mereka pada pertemuan berikutnya. Pada adik
bungsunya itulah, Yusuf mengungkapkan kisahnya bahwa ia dipelakukan jahat oleh
kakak-kakaknya. Yusuf akhirnya bekerja sama dengan adiknya. Adiknya untuk
sementara ditinggal bersamanya. Yusuf berpura-pura bahwa adiknya ditahan karena
mencuri gelas minum
raja. Pada saat itu juga, Yaqub kehilangan penglihatannya karena merasa
kehilangan Yusuf dan saudaranya.
Ketika saudara-saudara Yusuf datang lagi kepadanya, Yusuf
mengungkapkan jati dirinya pada mereka. Saudara-saudara Yusuf akhirnya meminta
maaf atas tindakan mereka. Yusuf kemudian meminta mereka membawakan bajunya kepada
ayahnya dan mengusapkan pada wajah ayahnya untuk memulihkan penglihatannya dan
juga memerintahkan mereka untuk membawa orangtua dan keluarga mereka ke Mesir. Setelah tiba di
Mesir, orang tua dan saudara-saudaranya bersujud untuk menghormatinya. Yusuf
kemudian mengingatkan akan mimpinya di masa muda yang ditafsirkan oleh ayahnya;
sebelas planet, matahari,
dan bulan bersujud
padanya
D.
Relevansi
Kisah Dalam Al-Qur’an Dengan Pendidikan
Kisah Nabi Yusuf as dalam Al-Qur’an berbeda dengan
kisah nabi-nabi Allah SWT lainnya, sebagai berikut:
a.
Kisah Nabi Yusuf as secara khusus
diceritakan secara runtut dalam satu surat tersendiri dalam Al-Qur’an, yakni
Surat Yusuf sedangkan nabi-nabi yang lain diceritakan dan disebutkan di beberapa
surat.
b.
Isi kisah Nabi Yusuf as dalam Al-Qur’an
berbeda pula dengan nabi-nabi yang lain, Allah SWT menitik beratkan kepada
tantangan yang bermacam-macam dari kaum mereka, kemudian mengakhiri kisah itu
dengan kemusnahan para penentang para nabi itu. Sedang dalam kisah Yusuf as,
Allah SWT menonjolkan akibat yang baik dari kesabaran, serta menunjukkan bahwa
kesenangan dan kebahagiaan datangnya setelah penderitaan berupa berbagai ujian
dan cobaan.
c.
Sisi kehidupan keagamaan Nabi Yusuf as
lebih ditonjolkan daripada aspek kepribadiannya yang lain. Hal itu tersirat
dalam tahapan-tahapan dari peristiwa-peristiwa yang tejadi dalam kisah ini.
Karena sisi kehidupan keagamaan Yusuf as jauh lebih
ditekankan dalam Al-Qur’an daripada aspek kepribadianya yang lain. Maka kisah
ini mengandung nilai-nilai pendidikan abadi yang sangat bermanfaat bagi
kehidupan ini. Diantara nilai-nilai itu adalah kedamaian, penghargaan, cinta, toleransi, kejujuran, kerendahan hati, kerjasama,
kebahagiaan, tanggung jawab, kesederhanaan, kebebasan, persatuan, dan
kesabaran. Sifat dari nilai-nilai pendidikan ini bersifat universal serta abadi
sebagai pedoman dalam kehidupan. Lain dari pada itu nilai-nilai tersebut
menguatkan sendi-sendi kehidupan dalam beragama, bermasayarakat, berbangsa, dan
bernegara.
Ada delapan pelajaran yang dapat kita petik dari
kisah nabi Yusuf dalam Al-Qur’an, diantaranya sebagai berikut :
1.
Pelajaran tentang perlunya
mewaspadai kaum pendengki dengan cara merahasiakan berita yang mungkin dapat
mengusik mereka
2.
Pelajaran tentang
pentingnya menghadirkan kesabaran dalam menghadapi makar musuh
3.
Pelajaran tentang
kesadaran akan keniscayaan ujian yang akan datang silih berganti
4.
Pelajaran tentang dakwah
yang tidak kenal henti
5.
Pelajaran tentang
pentingnya para da’i memiliki keunggulan ilmu
6.
Pelajaran tentang perlunya
melakukan upaya rehabilitasi citra dakwah.
7.
Pelajaran tentang kesiapan
para da’i berkontribusi dan memikul tanggung jawab kenegaraan.
8.
Pelajaran tentang
keharusan berbuat baik dan memaafkan kesalahan kaum pendengki
E.
Fungsi
Kisah Dalam Al-Qur’an
1.
Informatif
2.
Reflektif
3.
Motivasi
4.
Justifikatif
5.
Korektif
6.
Unsur-unsur
kisah
1.
Tokoh
2.
Peristiwa
3.
Dialog
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kisah berasal dari kata al-qashshu
yang berarti mencari atau mengikuti jejak. Dikatakan, “qashasshtu atsarahu”
artinya, “saya mengikuti atau mencari jejaknya.” Kata al-qashash adalah
bentuk masdar.
Kisah dalam Al-Qur’an
diklasisfikasikan menjadi dua macam. Pertama: dari segi waktu, pertama; kisah
hal gaib yang terjadi pada masa lalu, kedua; kisah hal gaib yang terjadi pada
masa Rasulullah, ketiga; kisah hal gaib yang akan terjadi dimasa yang akan
datang. Kedua: dari segi materi, pertama; kisah para nabi, kedua; kisah-kisah
yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan
orang-orang yang tidak dipastikan kenabiannya, ketiga; Kisah-kisah yang
berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah.
kehidupan
keagamaan Yusuf as jauh lebih ditekankan dalam Al-Qur’an daripada aspek
kepribadianya yang lain. Maka kisah ini mengandung nilai-nilai pendidikan abadi
yang sangat bermanfaat bagi kehidupan ini. Diantara nilai-nilai itu adalah
kedamaian, penghargaan, cinta, toleransi, kejujuran, kerendahan hati, kerjasama,
kebahagiaan, tanggung jawab, kesederhanaan, kebebasan, persatuan, dan
kesabaran. Sifat dari nilai-nilai pendidikan ini bersifat universal serta abadi
sebagai pedoman dalam kehidupan. Lain dari pada itu nilai-nilai tersebut
menguatkan sendi-sendi kehidupan dalam beragama, bermasayarakat, berbangsa, dan
bernegara.
DAFTAR PUSTAKA
Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam
Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Ayat Jilid 1 dan
2, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2013)
TM. Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan
Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990)
S.M.
Suhufi, Kisah-kisah dalam Al-Qur’an, (Bandung: PT. Al-Bayan, 1994)
Manna Khalil al-Qattan, Studi
Ilmu-ilmu Qur’an, terj. (Jakarta: Lentera Antar Nusa dan Pustaka Islami,
2000)
Ahmad
Syadzali, et.al., Ulumul Qur’an II, (Bandung: Pustaka Setia, Cet. I,
1997).
Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki, Keistimewaan-keistimewaan
Al-Qur’an, terj. Nur Faizin, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, cet. I, 2001).
Syaikh Manna Al-Qathathan, Pengantar
Studi Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar